Risiko Kebocoran Data dan Dampaknya pada UU PDP

Risiko Kebocoran Data

Daftar Isi

Di era digital, risiko kebocoran data adalah isu yang banyak dialami perusahaan. 

Jika data perusahaan bocor, konsekuensinya tidak hanya mengganggu operasional, tapi juga kerugian finansial, hingga hilangnya kepercayaan klien. Tidak ada yang mau bekerja sama dengan perusahaan yang tidak bisa melindungi aset dan data mereka sendiri.

Terlebih sejak diberlakukan UU Perlindungan Data Pribadi (PDP), insiden kebocoran data bisa berujung pada konsekuensi hukum. Hal ini tentu akan membawa pengaruh buruk pada nama baik perusahaan.

Di artikel ini, Anda akan memahami apa saja risiko yang terjadi ketika ada insiden kebocoran data hingga bagaimana cara agar bisnis Anda terhindar dari insiden ini.  

Apa Itu Risiko Kebocoran Data?

Bagi perusahaan, data adalah aset strategis yang mendukung operasional, pengambilan keputusan, hingga keunggulan kompetitif. Data yang dimiliki perusahaan bisa mencakup informasi pelanggan, data transaksi, laporan keuangan, hingga dokumen internal yang bersifat rahasia.

Risiko kebocoran data muncul ketika aset-aset tersebut terekspos, diakses, atau disalahgunakan oleh pihak yang tidak berwenang. Dampak dari kebocoran data ini dapat menyebabkan gangguan operasional, kerugian finansial, hilangnya kepercayaan klien, hingga risiko hukum.

Secara umum, kebocoran data dapat terjadi dalam dua konteks. Ada yang terjadi akibat kelalaian internal, dan ada juga yang terjadi karena adanya pihak yang secara aktif mengeksploitasi celah keamanan untuk mendapatkan data tersebut.

Apa Itu Data Leak?

Data leak adalah kondisi ketika data perusahaan terekspos tanpa sengaja akibat kelemahan dalam pengelolaan internal. Contohnya seperti: 

  • Database pelanggan yang dapat diakses tanpa proteksi
  • File internal yang terbuka di cloud storage
  • Kesalahan pengiriman data sensitif ke pihak yang tidak tepat

Penyebab data leak biasanya karena kurangnya kontrol akses, prosedur yang tidak konsisten, hingga minimnya awareness karyawan terhadap keamanan data.

Apa Itu Data Breach?

Data breach adalah insiden kebocoran data yang terjadi akibat adanya akses ilegal oleh pihak yang tidak berwenang. Data perusahaan menjadi target karena memiliki nilai ekonomi, strategis, atau bahkan dapat digunakan untuk tindakan kriminal.

Beberapa jenis data yang sering menjadi target dalam data breach adalah:

  • Data pribadi pelanggan
  • Informasi login dan kredensial
  • Data finansial
  • Dokumen bisnis strategis

Banyak kriminal yang mengirim phishing, ransomware, atau eksploitasi sistem untuk mendapatkan akses data ini. 

Baca Juga : 7 Penyebab Kebocoran Data di Perusahaan dan Pencegahannya

Apa Saja Jenis Risiko Kebocoran Data yang Perlu Diwaspadai Perusahaan?

Sayangnya banyak perusahaan yang baru menyadari pentingnya keamanan data setelah insiden terjadi. Padahal, risiko kebocoran data bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba, melainkan akumulasi dari berbagai celah yang sebenarnya bisa diantisipasi sejak awal.

Sebagian besar organisasi juga hanya fokus pada ancaman eksternal seperti hacker. Padahal banyaknya kasus kebocoran data justru seringkali berasal dari proses internal sendiri.

Oleh karena itu, risiko kebocoran data ini terbagi menjadi tiga: 

1. Risiko Internal

Risiko internal merupakan salah satu sumber kebocoran data yang paling sering terjadi, namun juga yang paling sering diabaikan. Risiko ini berasal dari aktivitas pengguna di dalam organisasi, baik yang disengaja maupun tidak.

Beberapa bentuk risiko internal antara lain:

  • Akses data tidak dibatasi sesuai kebutuhan kerja
  • Penggunaan password yang lemah atau berulang
  • Pengiriman data sensitif tanpa prosedur yang jelas
  • Penggunaan perangkat pribadi tanpa pengamanan

Risiko internal ini bukan hanya sebatas kesalahan individu, melainkan adanya kekurangan pada kontrol akses dan tata kelola data di dalam perusahaan.

2. Risiko Eksternal

Risiko eksternal berasal dari pihak luar yang secara aktif melakukan serangan kepada sistem perusahaan. Tujuannya untuk mendapatkan data perusahaan yang dapat dimanfaatkan untuk keuntungan finansial maupun aktivitas ilegal.

Beberapa bentuk ancaman eksternal yang sering terjadi meliputi:

  • Phishing untuk mencuri kredensial pengguna
  • Serangan ransomware yang mengunci data perusahaan
  • Malware yang mencuri atau memantau aktivitas sistem
  • Eksploitasi celah keamanan pada aplikasi atau jaringan

3. Risiko Sistem dan Teknologi

Selain faktor manusia dan ancaman eksternal, risiko juga dapat berasal dari kelemahan pada infrastruktur teknologi yang digunakan perusahaan. Risiko ini berupa:

  • Software atau sistem yang tidak diperbarui secara rutin
  • Kesalahan konfigurasi pada server atau cloud
  • Tidak adanya enkripsi pada data sensitif
  • Minimnya visibilitas terhadap aktivitas akses data

Mitigasi Risiko Kebocoran Data

Untuk mengatasi risiko kebocoran data tentunya membutuhkan strategi mitigasi yang jelas. Strategi ini tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga mencakup aspek proses dan manusia. 

Oleh karena itu, perusahaan perlu memahami apa saja langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko:

1. Melakukan Assessment

Langkah pertama mitigasi risiko kebocoran data adalah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan data di dalam organisasi. Lakukan beberapa hal di bawah ini: 

  • Mengidentifikasi jenis data yang dimiliki perusahaan
  • Memetakan alur distribusi dan penyimpanan data
  • Menentukan pihak yang memiliki akses terhadap data
  • Mengidentifikasi potensi celah keamanan

2. Menerapkan Kontrol Akses dan Perlindungan Data

Setelah memahami kondisi awal melalui asessmen, langkah berikutnya adalah memastikan bahwa akses terhadap data telah dikontrol ketat sesuai kebutuhan. Caranya: 

  • Pembatasan akses berdasarkan peran atau fungsi kerja
  • Penggunaan autentikasi berlapis
  • Enkripsi data pada saat penyimpanan dan pengiriman

Baca Juga : Cara Mencegah Kebocoran Data dengan Manajemen Akses Karyawan

3. Meningkatkan Monitoring dan Awareness Internal

Faktor visibilitas dan awareness di dalam organisasi adalah bagian dari risiko internal yang seringkali terjadi. Oleh karena itu, perusahaan perlu meningkatkan kemampuan deteksi serta kesadaran karyawan terhadap keamanan data dengan melakukan: 

  • Monitoring aktivitas sistem secara berkala
  • Implementasi sistem deteksi ancaman
  • Pelatihan keamanan informasi untuk karyawan

4. Menerapkan Standar Keamanan Informasi Seperti ISO 27001

Salah satu standar yang banyak digunakan adalah ISO 27001, sebuah standar internasional untuk sistem manajemen keamanan informasi. Standar ini membantu perusahaan dalam:

  • Mengelola risiko keamanan secara sistematis
  • Menetapkan kebijakan dan kontrol yang terukur
  • Memastikan kepatuhan terhadap regulasi seperti UU PDP

Mengurangi Risiko Kebocoran Data dengan Standar Keamanan yang Tepat

Risiko kebocoran data menjadi tantangan bagi perusahaan karena bisa terjadi akibat kelalaian internal maupun serangan siber. 

Dampaknya tidak sebatas mengganggu operasional dan reputasi saja, tetapi juga berpotensi menimbulkan konsekuensi hukum sesuai dengan UU PDP.

Untuk mengurangi risiko tersebut, perusahaan perlu menerapkan pendekatan dari sisi teknologi, maupun proses dan tata kelola. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengadopsi standar keamanan informasi adalah melakukan sertifikasi ISO 27001 untuk memastikan pengelolaan data berjalan secara sistematis.

DSG menyediakan layanan pendampingan sertifikasi ISO 27001 yang dapat membantu perusahaan Anda mulai dari assessment hingga persiapan audit. Jadwalkan konsultasi gratis dengan tim kami sekarang untuk mengamankan perusahaan dari risiko kebocoran data!

Isi form berikut! Tim kami segera menghubungi Anda.

Picture of Nadia Kamila

Nadia Kamila

Hi, I'm Nadia Lidzikri Kamila, an SEO Content Writer specializing in cybersecurity and digital security. Focused on creating well-researched content on malware, ransomware, antivirus solutions, and data protection to help users stay safe in the digital world.