Perbedaan Phising dan Pharming: Ancaman Mana Lebih Bahaya?

perbedaan phising dan pharming

Daftar Isi

Banyak perusahaan sudah memiliki antivirus dan sistem keamanan, tetapi masih melupakan faktor terbesar dalam serangan siber yaitu manusia. Tak heran hanya dari satu email palsu bisa membuat hacker mengakses  data penting perusahaan.

phising dan pharming adalah ancaman siber yang bertujuan untuk mencuri informasi. phising memanipulasi pengguna melalui pesan atau tautan palsu, sementara pharming memanfaatkan celah untuk mengarahkan korban ke website berbahaya.

Anda tentu tidak ingin perusahaan Anda terkena serangan hanya dari kelalaian karyawan bukan? Mari simak perbedaan phising dan pharming dan bagaimana seharusnya menentukan strategi perlindungan yang tepat untuk bisnis Anda. 

Apa Itu Phising?

phising adalah metode serangan siber yang memanfaatkan social engineering untuk membujuk korban memberikan informasi sensitif, seperti username, password, kode OTP, hingga data kartu pembayaran. 

Pelaku memanfaatkan rasa panik, percaya, atau penasaran dari targetnya.

Cara kerja phising biasanya dimulai dengan mengumpulkan informasi mengenai target. Penyerang dapat mencari nama perusahaan, jabatan karyawan, layanan perbankan yang digunakan, hingga aktivitas di media sosial agar pesan yang dikirim terlihat lebih meyakinkan. 

Setelah itu, mereka membuat email, SMS, atau pesan instan yang menyerupai komunikasi resmi dan mendorong korban untuk segera melakukan tindakan tertentu.

Salah satu contoh phising yang sering ditemukan di Indonesia adalah email yang mengatasnamakan bank dan meminta nasabah melakukan verifikasi akun melalui tautan tertentu. 

Baca Juga : Jangan Sampai Jadi Korban, Ini Cara Mengetahui Link Phising!

Sekilas tampilan email terlihat resmi karena menggunakan logo dan desain yang mirip dengan institusi asli. Namun, ketika korban memasukkan username dan password, data tersebut langsung dikirim ke pelaku.

Beberapa ciri phising yang dapat dikenali antara lain:

  • Alamat email pengirim tampak mirip, tetapi bukan berasal dari domain resmi.
  • Pesan menggunakan nada mendesak, misalnya akun akan diblokir jika tidak segera melakukan verifikasi.
  • Terdapat tautan menuju website dengan nama domain yang mencurigakan.
  • Pengirim meminta password, OTP, atau informasi pribadi yang seharusnya bersifat rahasia.
  • Isi pesan mengandung kesalahan penulisan, tata bahasa yang janggal, atau format yang kurang profesional.

Apa Itu Pharming?

Jika phising berusaha membujuk korban untuk mengklik tautan palsu, pharming mengarahkan pengguna ke website palsu meskipun mereka mengetik alamat website yang benar di browser.

Secara teknis, cara kerja pharming dapat dilakukan melalui dua hal: 

1. Malware mengubah file hosts pada perangkat korban sehingga alamat website tertentu diarahkan ke server yang dikendalikan penyerang. 

2. Pelaku menyerang infrastruktur DNS (Domain Name System) agar proses penerjemahan nama domain menuju alamat IP berubah tanpa diketahui pengguna.

Akibatnya, ketika seseorang mengakses website, email perusahaan, atau aplikasi bisnis berbasis web, browser akan menampilkan halaman login palsu yang tampilannya mirip dengan website asli. Korban merasa sedang berada di situs yang benar, padahal data yang dimasukkan justru diterima oleh penyerang.

Tak heran banyak yang menganggap pharming lebih sulit dideteksi dibandingkan phising. Hal ini disebabkan pengguna tidak menerima email mencurigakan ataupun tautan palsu, dari sudut pandang korban, seluruh prosesnya terlihat normal.

Karena melibatkan manipulasi pada perangkat atau infrastruktur jaringan, pencegahan pharming tidak cukup hanya mengandalkan kewaspadaan pengguna. 

Perusahaan juga perlu memastikan sistem operasi, DNS, serta perangkat yang digunakan selalu terlindungi dan diperbarui secara berkala.

Perbedaan Phising dan Pharming dari Berbagai Aspek

Walaupun sama-sama bertujuan mencuri data sensitif, phising dan pharming memiliki karakteristik yang berbeda. Berikut perbedaan phising dan pharming:

1. Metode Serangan

Baca Juga : Apa itu Social Engineering? Jenis, Contoh, dan Cara Mencegahnya

phising mengandalkan social engineering untuk memanipulasi korban melalui email, SMS, telepon, atau pesan instan. Penyerang biasanya membuat komunikasi palsu yang terlihat meyakinkan agar pengguna secara sukarela memberikan informasi penting.

Sementara itu, pharming menggunakan serangan teknis dengan memanfaatkan manipulasi pada perangkat, file hosts, atau sistem DNS untuk mengarahkan pengguna ke website palsu tanpa harus melalui pesan penipuan secara langsung.

2. Kebutuhan Aksi dari Pengguna

Pada serangan phising, tindakan korban sangat menentukan apakah serangan berhasil atau tidak. Pengguna perlu melakukan sesuatu seperti mengklik tautan, membuka lampiran, atau memasukkan kredensial pada halaman palsu.

Adapun pharming tidak selalu membutuhkan interaksi langsung dari pengguna. Seseorang dapat mengetik alamat website yang benar, tetapi tetap diarahkan ke halaman palsu akibat adanya manipulasi teknis pada sistem.

3. Tingkat Kesulitan Deteksi

Perbedaan phising dan pharming selanjutnya yaitu phising relatif mudah untuk dikenali jika pengguna memiliki kesadaran keamanan yang baik. Email dengan alamat pengirim mencurigakan, permintaan data sensitif, atau tautan yang tidak sesuai bisa menjadi tanda.

Pharming lebih sulit dideteksi karena proses pengalihan terjadi di balik layar. Dari sisi pengguna, website yang dibuka terlihat normal sehingga korban tidak menyadari bahwa mereka sedang berinteraksi dengan situs palsu.

4. Kemampuan Teknis Penyerang

Serangan phising umumnya membutuhkan kemampuan teknis yang lebih rendah karena memanfaatkan faktor manusia. Penyerang bisa membuat phising dengan berbagai teknik manipulasi tanpa harus mengeksploitasi sistem yang kompleks.

Sebaliknya, pharming butuh keahlian teknis mendalam karena melibatkan perangkat, jaringan, atau infrastruktur DNS. Penyerang perlu mengetahui cara mengubah jalur akses agar korban dapat diarahkan ke server yang mereka kendalikan.

5. Target Serangan

phising umumnya menargetkan individu atau karyawan tertentu. Penyerang akan memilih target berdasarkan jabatan, akses sistem, atau informasi yang dimiliki korban.

Sementara itu, pharming menyasar infrastruktur yang lebih luas. Jika berhasil menyerang sistem jaringan atau DNS, maka dampaknya dapat dirasakan oleh banyak pengguna sekaligus, bukan hanya satu individu.

Phising atau Pharming, Mana yang Lebih Berisiko untuk Perusahaan?

Baik phising maupun pharming sama-sama menimbulkan dampak serius bagi bisnis. Perbedaannya terletak pada cara serangan berkembang dan skala kerusakan yang mungkin ditimbulkan.

phising menjadi ancaman karena memanfaatkan faktor manusia sebagai celah masuk. Misalnya karyawan bagian keuangan menerima email yang berasal dari direktur perusahaan dan meminta pembayaran segera ke rekening tertentu. Jika karyawan percaya dan mengikuti instruksi tersebut, maka perusahaan dapat mengalami kerugian finansial secara langsung. 

Dalam kasus lain, karyawan yang memasukkan username dan password ke halaman login palsu dapat memberikan akses kepada penyerang untuk membuka email perusahaan, mencuri dokumen internal, atau melakukan serangan lanjutan ke sistem lainnya.

Sementara itu, pharming memiliki risiko yang berhubungan dengan infrastruktur teknologi. Sebagai contoh, sebuah perusahaan memiliki portal internal atau website layanan pelanggan yang sering digunakan karyawan dan klien. 

Jika sistem DNS atau perangkat pengguna berhasil dimanipulasi, pengguna bisa diarahkan ke website palsu meskipun mengetik alamat yang benar. Tanpa menyadari adanya pengalihan, mereka dapat memasukkan kredensial perusahaan atau informasi sensitif ke halaman yang dikendalikan oleh penyerang.

Perbedaan inilah yang membuat dampak kedua serangan bisa berbeda. phising biasanya berawal dari satu individu atau kelompok karyawan tertentu dan berkembang menjadi insiden jika akun yang dicuri memiliki akses penting. Sementara Pharming dapat berdampak lebih luas karena menyerang jalur akses yang digunakan banyak pengguna sekaligus.

Terlepas dari metode yang digunakan, phising maupun pharming dapat menyebabkan kebocoran data, kerugian finansial, gangguan operasional, hingga menurunnya kepercayaan pelanggan. 

Baca Juga : Risiko Kebocoran Data dan Dampaknya pada UU PDP

Perusahaan juga perlu memastikan pengelolaan data dilakukan sesuai dengan ketentuan perlindungan data yang berlaku, termasuk UU Perlindungan Data Pribadi (UU PDP). Panduan keamanan dari BSSN juga dapat menjadi referensi dalam membangun tata kelola keamanan informasi yang lebih baik.

Karena itu, perlindungan bisnis tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. Edukasi karyawan dan penguatan sistem harus berjalan bersama agar celah keamanan dari sisi manusia maupun infrastruktur dapat diminimalkan.

Cara Mencegah phising dan Pharming

Pencegahan phising dan pharming membutuhkan pendekatan yang seimbang antara meningkatkan kesadaran karyawan dan memperkuat sistem keamanan teknis. Perusahaan tidak bisa hanya mengandalkan teknologi, karena faktor manusia dan infrastruktur sama-sama dapat menjadi celah bagi penyerang.

Cara Mencegah Phising

Karena phising banyak memanfaatkan kelengahan pengguna, langkah pencegahannya perlu berfokus pada peningkatan awareness dan kebiasaan kerja yang lebih aman.

Beberapa langkah yang dapat diterapkan perusahaan antara lain:

  • Mengadakan security awareness training secara berkala: Pelatihan keamanan siber membantu karyawan mengenali pola phising terbaru, memahami ciri-ciri email mencurigakan, serta mengetahui tindakan yang tepat ketika menerima pesan atau permintaan informasi sensitif.
  • Membangun kebiasaan verifikasi informasi: Karyawan sebaiknya tidak langsung mempercayai email atau pesan yang meminta perubahan data, transfer dana, pembaruan akun, maupun pengiriman dokumen penting. Jika ada permintaan yang mencurigakan, lakukan konfirmasi melalui kanal komunikasi resmi.
  • Menggunakan Multi-Factor Authentication (MFA): MFA memberikan lapisan keamanan tambahan pada akun perusahaan. Dengan metode ini, password yang berhasil dicuri melalui phising tidak otomatis memberikan akses penuh kepada penyerang.
  • Mendorong budaya pelaporan insiden: Karyawan perlu merasa aman untuk melaporkan email mencurigakan tanpa takut disalahkan. Pelaporan lebih cepat dapat membantu tim IT melakukan tindakan sebelum serangan berkembang.

Cara Mencegah Pharming

Karena pharming menyerang sisi teknis, pencegahannya membutuhkan penguatan pada perangkat, jaringan, dan sistem yang digunakan perusahaan.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan meliputi:

  • Memastikan antivirus dan sistem keamanan selalu diperbarui: Antivirus yang ter-update membantu mendeteksi malware yang berpotensi mengubah konfigurasi perangkat, termasuk file hosts yang dapat dimanfaatkan dalam serangan pharming.
  • Melakukan patch sistem secara rutin: Sistem operasi, browser, dan aplikasi perusahaan perlu diperbarui secara berkala untuk menutup celah keamanan yang dapat dieksploitasi oleh penyerang.
  • Melakukan monitoring terhadap aktivitas DNS: Tim IT perlu memantau konfigurasi dan aktivitas DNS untuk mendeteksi perubahan yang tidak normal atau upaya pengalihan menuju alamat yang mencurigakan.
  • Memastikan website menggunakan HTTPS dan sertifikat valid: Sebelum memasukkan informasi sensitif, pengguna perlu memastikan website yang diakses menggunakan koneksi HTTPS dan sertifikat keamanan yang sesuai. Meskipun bukan perlindungan mutlak, langkah ini dapat membantu mengurangi risiko mengakses situs palsu.

Tingkatkan Kesiapan Keamanan Siber 

Memahami ancaman siber seperti perbedaan phising dan pharming adalah langkah awal. Perusahaan juga perlu mengetahui apakah karyawan sudah siap menghadapi serangan dan apakah sistem yang digunakan masih memiliki celah yang dapat dimanfaatkan. 

Melalui Cyber Security Training oleh DSG, perusahaan bisa membantu karyawan untuk mengenali risiko seperti phising dan membangun kebiasaan kerja yang lebih aman.

Adapun dari memastikan sisi teknis tetap terlindungi, DSG juga menyediakan layanan Vulnerability Assessment dan Penetration Testing untuk membantu menemukan celah keamanan sebelum dimanfaatkan oleh penyerang.

Dengan mengetahui risiko lebih awal, perusahaan bisa mengambil langkah pencegahan yang tepat dan membangun pertahanan siber yang kuat untuk mendukung operasional bisnis. Hubungi tim kami sekarang!

Isi form berikut! Tim kami segera menghubungi Anda.

Picture of Nadia Kamila

Nadia Kamila

Hi, I'm Nadia Lidzikri Kamila, an SEO Content Writer specializing in cybersecurity and digital security. Focused on creating well-researched content on malware, ransomware, antivirus solutions, and data protection to help users stay safe in the digital world.