Pernah menerima pesan WhatsApp berisi link resi paket, undangan digital, atau notifikasi yang meminta Anda segera login ulang? Sekilas terlihat seperti pesan biasa.
Namun, jika tautan tersebut ternyata dibuat oleh penipu, klik tersebut bisa menjadi awal dari masalah besar.
Bahaya phising ini juga terjadi di lingkungan kerja. Seorang karyawan bisa menerima email atau pesan WhatsApp yang sekilas tampak berasal dari vendor maupun atasannya, lalu tanpa curiga membuka tautan atau file yang dikirimkan.
Padahal, pesan tersebut dibuat untuk mengelabui korban dan berpotensi membuka jalan bagi pencurian data atau gangguan pada sistem perusahaan.
Modus seperti ini semakin sering ditemui, bahkan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat serangan siber di Indonesia pada 2025 naik hingga 714% dibanding rata-rata periode 2020–2024. Serangan tersebut diawali dengan malware yang masuk melalui tautan phising maupun aplikasi palsu.
Baca Juga : Kasus Phising Paling Mengguncang Dunia dan Indonesia
Mari kenali apa saja bahaya phising dan bagaimana untuk mengatasinya.
5 Bahaya Phising
Phising adalah modus penipuan digital ketika penyerang siber menyamar untuk mengelabui korban agar memberikan informasi sensitif, mengklik tautan berbahaya, atau memasang aplikasi tertentu.
Tujuan phising cukup beragam, mulai dari mencuri uang, mengambil data pribadi, hingga mendapatkan akses ke akun yang dapat dimanfaatkan untuk serangan berikutnya.
Masalahnya, phising sekarang tidak lagi mudah dikenali. Anda bisa menerima pesan melalui email, WhatsApp, SMS, media sosial, hingga panggilan telepon dan tidak terlihat mencurigakan.
Mereka memanfaatkan situasi yang familiar bagi korban, seperti notifikasi paket, pesan dari teman, promo belanja, atau permintaan dari rekan kerja.
Lalu, apa bahaya yang terjadi ketika Anda klik link phising tersebut?
1. Kerugian Finansial
Kerugian finansial adalah salah satu dampak dari serangan phising. Modusnya dimulai dengan upaya mendapatkan akses ke akun keuangan atau mengarahkan korban melakukan transaksi tertentu.
Penipu membuat website yang menyerupai halaman login bank, e-wallet, atau marketplace. Korban pun memasukkan username, password, atau kode OTP tanpa menyadari jika mereka sedang memberikan informasi tersebut kepada penyerang.
Contohnya, korban menerima SMS yang mengatasnamakan bank dengan pesan bahwa rekeningnya bermasalah dan harus segera melakukan verifikasi melalui sebuah tautan.
Ketika korban masuk ke halaman palsu tersebut, data login yang dimasukkan dapat digunakan untuk mengakses akun sebenarnya.
Pada perusahaan, modus serupa dapat terjadi melalui email palsu yang menyamar sebagai vendor. Penyerang meminta perubahan rekening pembayaran atau mengirim invoice palsu sehingga dana perusahaan justru masuk ke rekening yang salah.
2. Pencurian Identitas dan Data Pribadi
Selain uang, data pribadi juga menjadi target bagi penyerang siber. Informasi seperti nama lengkap, nomor telepon, alamat email, NIK, hingga data akun dapat digunakan untuk melakukan berbagai bentuk penyalahgunaan identitas.
Biasanya, penyerang mengumpulkan data tersebut melalui formulir login palsu, aplikasi berbahaya, atau percakapan yang dibuat seolah berasal dari layanan resmi.
Sebagai contoh, seseorang menerima pesan WhatsApp tentang undian atau promo belanja yang meminta data pribadi untuk proses klaim hadiah. Karena tampilannya terlihat meyakinkan, korban mengisi informasi yang diminta tanpa menyadari bahwa data tersebut sedang dikumpulkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Data yang terkumpul bisa digunakan untuk membuat akun palsu, melakukan penipuan atas nama korban, atau menjadi bahan serangan lanjutan.
3. Akun Dibajak dan Dipakai Menipu Orang Lain
Ketika akun Anda diambil alih oleh penyerang, maka penipu bisa berpura-pura sebagai Anda untuk mendapatkan mangsa lainnya. Nama Anda lah yang akan muncul sebagai penipu, bukan si penyerang.
Ketika penyerang mengambil alih WhatsApp, ia bisa menghubungi daftar kontak korban dan mengirim pesan seperti permintaan pinjaman uang atau tautan tertentu. Sementara kontak Anda seperti keluarga, teman atau rekan kerja percaya bahwa yang mengirim pesan adalah Anda sendiri.
Pola yang sama juga terjadi pada media sosial. Akun yang diretas bisa digunakan untuk menyebarkan giveaway palsu, promosi fiktif, atau tautan login tiruan.
Menurut data Kaspersky, media sosial adalah salah satu platform yang dimanfaatkan untuk serangan phising. Sekitar 21,89% kejadian phising terjadi di platform Facebook, angka ini menunjukkan bahwa platform dengan interaksi tinggi juga menjadi sasaran favorit penyerang.
4. Reputasi dan Operasional Bisnis Ikut Terdampak
Bahaya phising bagi perusahaan lebih parah lagi, ketika ada akun karyawan yang berhasil diretas, insiden ini bisa berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Misalnya, akun email perusahaan yang berhasil diretas bisa digunakan penyerang untuk mengirim pesan palsu kepada pelanggan, mitra, atau karyawan lain.
Akibatnya, perusahaan bisa kehilangan kepercayaan pelanggan, harus melakukan investigasi internal, serta menghentikan sebagian aktivitas untuk memulihkan sistem.
Dalam kasus tertentu, perusahaan juga perlu menghadapi konsekuensi tambahan seperti kewajiban pemberitahuan kepada pihak terkait apabila terjadi kebocoran data.
5. Menjadi Pintu Masuk untuk Serangan Lanjutan
Ketika link berbahaya berhasil diklik, disitulah penyerang akan mencoba memasang malware, mencuri informasi internal, atau mencari celah lain dalam jaringan perusahaan.
Contohnya, file APK yang dikirim melalui WhatsApp bisa menyamar sebagai dokumen atau aplikasi tertentu. Jika diinstal, aplikasi tersebut berpotensi memberikan akses tidak sah ke perangkat korban.
Pada lingkungan bisnis, akses awal yang diperoleh dari satu karyawan dapat menjadi jalan menuju serangan yang lebih besar, seperti pencurian data sensitif atau ransomware yang mengganggu operasional perusahaan.
Mengapa Phising Tetap Berhasil Meski Terdapat Sistem Keamanan?
Banyak perusahaan telah menggunakan firewall, antivirus, dan sistem proteksi lainnya untuk menjaga aset digital mereka. Namun, teknologi tidak selalu cukup untuk menghentikan phising.
Baca Juga : Perbedaan Phising dan Pharming: Ancaman Mana Lebih Bahaya?
Alasannya, phising tidak menyerang sistem, tetapi juga mencoba memengaruhi manusia agar melakukan tindakan tertentu. Penyerang siber memanfaatkan rasa percaya, kebiasaan, atau situasi mendesak untuk membuat korban mengambil keputusan tanpa berpikir panjang.
Beberapa hal yang membuat phising masih berhasil antara lain:
- Penyerang menyamar sebagai vendor, atasan, bank, atau layanan yang sering digunakan korban. Mereka memanfaatkan logo, format pesan, hingga gaya bahasa yang terlihat profesional agar korban tidak merasa curiga.
- Sistem keamanan dapat memblokir banyak ancaman teknis, tetapi tidak bisa mencegah seseorang untuk klik tautan atau membuka file yang terlihat meyakinkan.
- Pesan phising dirancang untuk menciptakan rasa panik, seperti pemberitahuan akun bermasalah, permintaan pembayaran, atau dokumen yang perlu segera diperiksa.
Hal ini juga terlihat dalam Verizon Data Breach Investigations Report (DBIR) yang mencatat bahwa sekitar 60% insiden keamanan di sektor keuangan melibatkan faktor manusia, seperti kelalaian atau serangan social engineering, bukan hanya kelemahan teknis.
Ketika perusahaan sudah memiliki sistem keamanan berlapis, namun, ada karyawan menerima email phising yang dibuat seolah berasal dari vendor atau pesan WhatsApp yang dikirim oleh rekan kerja.
Ia melihat tidak ada yang salah dari email vendor maupun pesan dari rekan kerja dan membuka tautan atau file tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. Dari tindakan sederhana tersebut, penyerang dapat memperoleh akses untuk melancarkan serangan yang lebih besar.
Karena itu, perlindungan terhadap phising perlu dilakukan dari dua sisi
1. Meningkatkan kesadaran pengguna sekaligus memastikan sistem perusahaan memiliki pertahanan yang memadai.
2. Memahami cara mengenali, mencegah, dan mengatasi phising di berbagai platform.
Cara Mengenali, Mencegah, dan Mengatasi Phising di Berbagai Platform
Meski modus phising berkembang, sebagian besar serangannya masih memiliki pola yang bisa dikenali. Penyerang biasanya memanfaatkan rasa panik, rasa percaya, atau situasi mendesak agar korban bertindak tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.
Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengenali, mencegah, dan mengurangi dampak phising.
1. Kenali Ciri-Ciri Phising Sebelum Terjebak
Beberapa tanda yang sering muncul dalam pesan phising antara lain:
- Membuat orang panik atau memberikan ancaman palsu. Misalnya, pesan yang mengatakan rekening akan diblokir, paket gagal dikirim, akun harus segera diverifikasi, atau hadiah harus segera diklaim.
- Waspadai pihak yang meminta password, PIN, kode OTP, data kartu, atau informasi pribadi melalui email, WhatsApp, maupun telepon. Informasi tersebut tidak seharusnya diberikan kepada siapa pun.
- Penyerang sering meniru nama bank, marketplace, vendor, atau layanan populer agar pesan terlihat terpercaya. Karena itu, selalu periksa alamat email, nomor pengirim, dan domain website sebelum melakukan tindakan apa pun.
2. Lakukan Verifikasi di Setiap Platform
Baca Juga : Jangan Sampai Jadi Korban, Ini Cara Mengetahui Link Phising!
Cara mengenali phising juga perlu disesuaikan dengan media yang digunakan:
1. WhatsApp
Periksa nomor pengirim, terutama jika berasal dari kontak baru. Jangan sembarangan membuka link resi, undangan digital, atau file APK yang dikirim tanpa konteks yang jelas.
2. Media sosial
Waspadai akun yang mengaku sebagai customer service, menawarkan giveaway, atau meminta data melalui pesan pribadi. Pastikan akun tersebut benar-benar resmi sebelum memberikan informasi apa pun.
3. Telepon atau voice phising
Jika ada orang yang meminta data pribadi, kode verifikasi, atau menginstruksikan transfer dana melalui telepon, jangan langsung mengikuti arahan tersebut. Tutup panggilan dan lakukan verifikasi melalui kanal resmi.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Terlanjur Klik Link Phising?
Jika sudah terlanjur membuka tautan atau file mencurigakan, segera lakukan langkah berikut untuk mengurangi risiko:
- Segera ganti password akun yang terdampak
- Aktifkan autentikasi dua faktor (2FA)
- Hubungi layanan resmi jika terkait data keuangan
- Periksa perangkat jika mengunduh file mencurigakan
Semakin cepat tindakan dilakukan, semakin besar peluang untuk meminimalkan dampak phising sebelum menjadi masalah yang lebih besar.
Cegah Phising dengan Meningkatkan Kesadaran Keamanan Siber
Phising bisa muncul dari berbagai kanal yang kita gunakan setiap hari, mulai dari email, WhatsApp, hingga media sosial. Karena itu, tak cukup hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga membutuhkan kesadaran setiap orang yang menggunakan sistem tersebut.
Melalui Security Awareness Training, DSG (PT Digital Solusi Grup) membantu perusahaan membangun kebiasaan keamanan yang lebih baik, termasuk mengenali dan menghadapi simulasi serangan phising.
Dengan meningkatkan kesiapan karyawan, perusahaan dapat mengurangi risiko kesalahan manusia yang sering dimanfaatkan dalam serangan siber.
Jika Anda ingin mengetahui bagaimana meningkatkan kesadaran keamanan siber di organisasi Anda, hubungi tim kami untuk berdiskusi mengenai pendekatan yang paling sesuai dengan kebutuhan bisnis Anda.



















