5 Kesalahan Setting Fortigate yang Sering Terjadi & Solusinya

Kesalahan Setting Fortigate

Daftar Isi

Untuk melindungi aset digital perusahaan, banyak yang berinvestasi pada perangkat Next-Generation Firewall seperti Fortigate. Namun, perangkat canggih belum bisa menjamin keamanan jika terjadi kekeliruan pada konfigurasi internalnya. 

Banyak tim IT yang tidak sengaja melakukan kesalahan setting fortigate yang bisa berujung pada celah keamanan. 

Artikel ini akan membedah lima kekeliruan konfigurasi yang paling sering terjadi. Dengan memahami risiko ini, Anda bisa melakukan audit mandiri atau mempertimbangkan solusi jasa setting fortigate profesional demi memastikan keamanan jaringan perusahaan tetap solid. 

5 Kesalahan Setting Fortigate yang Sering Terjadi

Apa saja kesalahan setting fortigate yang biasanya terjadi di lapangan?

1. Mengabaikan Pembaruan Firmware

Kesalahan konfigurasi Fortigate yang sering terjadi yaitu anggapan bahwa ketika firewall menyala dan berfungsi normal, maka keamanan jaringan sudah selesai.

Padahal, firmware butuh pembaruan secara berkala. Tanpa melakukan update, maka otak dari perangkat keamanan Anda akan tertinggal.

Hal ini cukup fatal karena ancaman siber terus berevolusi setiap harinya. Selain itu peretas juga aktif mengincar sistem yang usang. Membiarkan firmware tanpa patching akan menjadikannya sasaran empuk eksploitasi vulnerability .

Salah satu contoh kasusnya adalah eksploitasi massal celah SSL-VPN (CVE-2018-13379) pada FortiOS versi lama. Meskipun Fortinet telah merilis patch sejak 2019, banyak perusahaan yang menunda upgrade firmware hingga bertahun-tahun. 

Akibatnya, pada periode 2020–2021, peretas berhasil mencuri dan membocorkan hampir 50.000 kredensial VPN perusahaan ke forum gelap. Celah dari firmware usang ini menjadi pintu masuk bagi gelombang serangan ransomware seperti Conti dan Cring yang melumpuhkan infrastruktur industri dan bisnis berskala global. 

Selain menambal celah keamanan dari peretas, pembaruan firmware sebenarnya membawa dua keuntungan yaitu

  • Meningkatkan efisiensi kerja komponen fisik hardware.
  • Mengatasi error internal sistem yang kerap memicu system crash mendadak.

Baca Juga : Apa itu Ransomware Conti? Dampak dan Cara Mencegahnya

2. Konfigurasi Firewall Policies yang Terlalu Longgar 

Demi kemudahan akses operasional atau sekadar mengambil jalan pintas saat melakukan troubleshooting, administrator jaringan terkadang melonggarkan pertahanan. 

Misalnya mengatur policy dengan parameter Source: All, Destination: All, dan Action: Accept tanpa adanya pembatasan port atau protokol tertentu.

Hal ini bisa menjadi masalah firewall Fortigate yang cukup fatal karena sama saja dengan memberikan jalan bagi trafik mencurigakan untuk masuk ke jaringan internal perusahaan.

Jika salah satu komputer karyawan terinfeksi, maka malware akan menyebar dengan mudah menyebar ke seluruh sub-jaringan tanpa hambatan. Celah inilah yang memicu lateral movement , di mana peretas atau virus bebas berpindah dari satu komputer ke komputer lain di dalam jaringan yang sama.

Untuk menutup celah ini, Anda perlu menerapkan prinsip Least Privilege. Setiap policy yang dibuat pun harus didefinisikan secara spesifik:

  • Batasi Sumber Trafik: Tentukan hanya segelintir IP source yang memang benar-benar diizinkan.
  • Persempit Tujuan: Batasi tujuan (destination) hanya ke server atau layanan spesifik yang dituju.
  • Buka Port yang Dibutuhkan Saja: Hanya aktifkan service atau port spesifik yang benar-benar diperlukan untuk operasional (misalnya, hanya membuka port 80 dan 443 untuk traffic web).

3. Tidak Mengaktifkan Fitur UTM (Unified Threat Management

Jika administrator hanya mengaktifkan fungsi dasar seperti router pengarah jalur data atau firewall tradisional, maka perangkat hanya menyaring trafik berdasarkan Alamat IP dan nomor port tanpa memeriksa isinya. 

Padahal, kekuatan utama Fortigate terletak pada fitur UTM (Unified Threat Management) yang mampu melakukan deep packet inspection pada menu Security Profiles.

Jika fitur UTM ini dinonaktifkan, maka perangkat tidak mampu mendeteksi ancaman yang diselundupkan di dalam trafik. HPeretas sering kali menyembunyikan malware atau ransomware di dalam Port 443 (HTTPS) yang biasa digunakan untuk browsing sehari-hari. 

Tanpa pengawasan UTM, firewall tradisional akan meloloskan file berbahaya tersebut ke jaringan internal.

4. Manajemen Log dan Monitoring yang Minim

Konfigurasi logging sering kali dianggap sepele atau dinonaktifkan demi menghemat beban memori perangkat. Akhirnya ketika ada insiden keamanan atau kebocoran data, tim IT tidak memiliki data historis untuk melakukan tracing dari mana serangan berasal, kapan serangan dimulai, dan aset apa saja yang telah terkompromi.

Maka pastikan opsi “Log Allowed Traffic” disetel ke “All Sessions” pada policy yang krusial. Selain itu, disarankan untuk menghubungkan Fortigate dengan FortiAnalyzer atau sistem SIEM (Security Information and Event Management) pihak ketiga agar pengelolaan log lebih terstruktur dan mudah dianalisis secara visual.

5. Salah Mengatur Routing dan Pembagian Bandwidth (QoS)

Kesalahan kelima ini umumnya tidak langsung merusak keamanan, tetapi berdampak buruk pada kenyamanan operasional harian perusahaan.

Dampaknya terjadi bottleneck jaringan di mana aktivitas perusahaan seperti video conference direksi, akses ke server database, atau aplikasi ERP menjadi lambat atau putus-putus. 

Hal ini terjadi karena bandwidth kantor habis tersedot oleh aktivitas non-krusial (seperti streaming video atau unduhan latar belakang) yang berjalan di jaringan yang sama.

Untuk mencegahnya, manfaatkan fitur Traffic Shaping pada FortiOS untuk mengalokasikan batas minimum dan maksimum bandwidth berdasarkan jenis aplikasi atau segmen user

Dengan begitu, performa jaringan bisnis tetap stabil dan efisien dalam situasi trafik padat sekalipun.

Baca Juga : 3 Celah Keamanan Digital di Balik Kasus Pig Butchering

Cara Menghindari Celah Keamanan pada Setup Fortigate Anda

Setelah memahami berbagai risiko di atas, langkah selanjutnya adalah mengambil tindakan preventif. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa segera diterapkan untuk memastikan kesalahan setting fortigate tidak terjadi di lingkungan perusahaan Anda:

1. Melakukan Security Rating Audit secara Berkala

FortiOS memiliki fitur bawaan bernama Security Rating yang bisa dimanfaatkan untuk memindai seluruh konfigurasi secara otomatis. Sistem akan memberikan nilai serta rekomendasi langsung jika mendapati adanya rule yang tidak sesuai dengan standar keamanan internasional.

2. Terapkan Autentikasi Dua Faktor (2FA/MFA)

Akses administratif ke dasbor Fortigate adalah kunci pertahanan, sehingga jangan hanya mengandalkan kata sandi biasa. Aktifkan Two-Factor Authentication (2FA) dengan FortiToken untuk setiap akun administrator jaringan guna mencegah pembobolan melalui metode credential stuffing atau brute-force.

3. Disiplin Melakukan Backup Konfigurasi

Sebelum melakukan perubahan rule, penambahan policy, atau upgrade firmware, sempatkan untuk mengunduh file backup konfigurasi terbaru. Jika terjadi kesalahan teknis atau human error saat eksekusi, Anda bisa melakukan restore dengan cepat tanpa harus memicu downtime yang lama.

Mengapa Menggunakan Jasa Setting Fortigate Profesional Lebih Aman?

Bagi sebagian perusahaan, cara setting Fortigate dan mengelola Next-Generation Firewall (NGFW) secara mandiri sering kali menjadi tantangan. Kompleksitas fitur yang ditawarkan Fortigate membutuhkan keahlian teknis dan perhatian.

Selain itu, untuk mengonfigurasi perangkat keamanan enterprise juga perlu pemahaman tentang arsitektur jaringan, manajemen risiko, serta kepatuhan regulasi siber. 

Baca Juga : Apa itu NGFW (Next Generation Firewall)? Fungsi dan Fiturnya

Seorang engineer yang menangani perangkat ini idealnya memiliki sertifikasi resmi seperti NSE (Network Security Expert) dari Fortinet untuk menjamin kapabilitasnya.

Anda bisa mempercayakan konfigurasi kepada profesional, sehingga perusahaan Anda bisa menghindari metode trial and error yang berisiko tinggi. Selain menghemat waktu dan tim IT internal bisa fokus pada pengembangan bisnis, Anda juga akan mendapatkan customized IT security blueprint yang dirancang sesuai dengan skala dan kebutuhan spesifik perusahaan Anda.

Optimalkan Keamanan Jaringan Anda Bersama Jasa Setting Fortigate DSG

Menghindari celah keamanan akibat kesalahan setting fortigate kini jauh lebih mudah. Digital Solusi Grup (DSG) hadir sebagai mitra IT tepercaya yang siap membantu perusahaan Anda membangun, mengoptimalkan, dan memelihara infrastruktur jaringan yang kokoh melalui layanan jasa setting fortigate profesional.

Mengapa banyak perusahaan mempercayakan keamanan mereka kepada DSG?

  • Tim Ahli Bersertifikasi Resmi: Seluruh proses setup dan audit dilakukan oleh network engineer berpengalaman yang memiliki pemahaman mendalam mengenai ekosistem FortiOS dan standar keamanan terbaik.
  • Deployment Terstruktur & Minim Risiko: Kami bekerja dengan metodologi yang matang, mulai dari tahap assessment jaringan awal, perancangan topologi yang aman, proses konfigurasi yang presisi, hingga tahap security testing yang ketat sebelum sistem diimplementasikan secara penuh.
  • Dukungan Proaktif Pasca-Setting: DSG menyediakan opsi dukungan maintenance berkala untuk membantu tim Anda melakukan patching firmware, pemantauan log, hingga penyesuaian policy seiring dengan berkembangnya skala bisnis Anda.

Jangan biarkan investasi perangkat Fortigate Anda yang bernilai tinggi menjadi sia-sia dan rentan akibat kekeliruan konfigurasi. Hubungi tim kami untuk menjadwalkan konsultasi gratis mengenai keamanan jaringan Anda. 

Isi form berikut! Tim kami segera menghubungi Anda.

Picture of Nadia Kamila

Nadia Kamila

Hi, I'm Nadia Lidzikri Kamila, an SEO Content Writer specializing in cybersecurity and digital security. Focused on creating well-researched content on malware, ransomware, antivirus solutions, and data protection to help users stay safe in the digital world.