Keamanan siber menjadi bagian penting dalam menjaga operasional dan data perusahaan. Seiring bertambahnya sistem, data, perangkat, dan aktivitas digital, kebutuhan pengelolaan keamanan juga dapat semakin kompleks.
Dalam kondisi tertentu, perusahaan mungkin membutuhkan kompetensi khusus untuk mengidentifikasi risiko, melindungi sistem, dan merespons potensi ancaman secara tepat. Lantas, kapan perusahaan perlu mempertimbangkan kehadiran spesialis keamanan siber?
Kapan Perusahaan Sebenarnya Butuh Spesialis Keamanan Siber?
Kebutuhan akan spesialis keamanan siber dapat muncul ketika sistem, data, dan aktivitas digital perusahaan semakin kompleks.
Kebutuhan tersebut tidak selalu ditentukan oleh ukuran perusahaan. Bisnis dengan jumlah karyawan yang tidak terlalu besar pun dapat memiliki kebutuhan keamanan yang tinggi, terutama jika mengelola data pelanggan yang sensitif, menggunakan banyak layanan cloud, terhubung dengan sistem pihak ketiga, atau harus memenuhi regulasi tertentu.
Lalu, kondisi apa saja yang menunjukkan bahwa perusahaan perlu meningkatkan pengelolaan keamanan sibernya? Berikut beberapa di antaranya.
1. Belum Pernah Melakukan Audit Keamanan atau Penetration Test
Baca Juga : Manual vs Automated Pentesting, Mana yang Lebih Efektif?
Salah satu hal yang perlu diperhatikan perusahaan adalah apakah sistem yang digunakan saat ini pernah diuji dari sisi keamanan. Jika belum pernah, perusahaan mungkin belum memiliki gambaran yang jelas mengenai kerentanan yang terdapat pada sistem, aplikasi, jaringan, maupun infrastrukturnya.
Audit keamanan dan penetration testing dapat membantu mengidentifikasi kerentanan sebelum dimanfaatkan oleh pihak yang tidak berwenang. Hasil pengujian juga dapat membantu perusahaan memahami tingkat risiko dan menentukan perbaikan yang perlu diprioritaskan.
Kebutuhan pengujian keamanan menjadi semakin relevan apabila perusahaan memiliki:
- Aplikasi atau website yang berperan penting dalam operasional bisnis
- Sistem yang menyimpan data pelanggan atau data internal
- Infrastruktur yang terhubung ke internet
- Integrasi dengan vendor atau sistem pihak ketiga
- Sistem yang terus dikembangkan atau mengalami perubahan secara berkala
Jika perusahaan belum pernah melakukan pengujian keamanan, kondisi tersebut dapat menjadi tanda bahwa perusahaan perlu mulai memperkuat kemampuan keamanan sibernya, baik melalui tim internal maupun dukungan dari spesialis keamanan siber.
2. Baru Mengalami Insiden Keamanan
Insiden keamanan tidak selalu berupa serangan besar yang langsung mengganggu seluruh operasional perusahaan.
Kebocoran kredensial, pengambilalihan akun, infeksi malware, phishing yang berhasil, hingga akses tidak sah ke data juga perlu mendapat perhatian.
Setelah insiden terjadi, perusahaan tidak cukup hanya memulihkan sistem dan mengembalikan operasional seperti semula. Perusahaan juga perlu memahami bagaimana insiden tersebut terjadi, sistem atau data apa yang terdampak, serta apakah masih terdapat celah lain yang belum ditemukan.
Spesialis keamanan siber dapat membantu melakukan assessment setelah insiden untuk mengidentifikasi akar masalah, mengevaluasi dampak, dan menentukan langkah perbaikan yang diperlukan.
Evaluasi yang menyeluruh akan membantu perusahaan menemukan celah lain yang berpotensi dimanfaatkan kembali.
3. Sedang Menuju ISO 27001 atau Perlu Memenuhi Kepatuhan Regulasi
Kebutuhan keamanan siber biasanya meningkat ketika perusahaan sedang mempersiapkan sertifikasi atau perlu memenuhi persyaratan regulasi tertentu.
Baca Juga : 7 Penyebab Kebocoran Data di Perusahaan dan Pencegahannya
Misalnya, perusahaan yang sedang menuju sertifikasi ISO 27001 perlu membangun pengelolaan keamanan informasi yang lebih terstruktur. Prosesnya tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga mencakup:
- Pengelolaan risiko keamanan informasi
- Penerapan kontrol keamanan
- Dokumentasi dan kebijakan
- Pengelolaan akses dan aset informasi
- Kesadaran serta keterlibatan pengguna
Kebutuhan serupa dapat muncul ketika perusahaan perlu memenuhi kewajiban terkait keamanan informasi dan perlindungan data. Bagi perusahaan yang memproses data pribadi, UU Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi adalah regulasi penting yang perlu dipahami dan diterapkan sesuai dengan konteks bisnis.
Dalam kondisi tersebut, spesialis keamanan siber dapat membantu perusahaan melakukan gap assessment, mengidentifikasi kontrol yang masih perlu diperbaiki, serta menentukan prioritas berdasarkan tingkat risiko.
4. Karyawan Belum Memahami Keamanan Siber
Meski perusahaan telah memiliki teknologi keamanan paling canggih, tetep berisiko apabila pengguna tidak memahami praktik keamanan dasar.
Password yang lemah atau digunakan berulang kali, kebiasaan mengklik tautan mencurigakan, penggunaan perangkat pribadi tanpa kontrol yang memadai, serta kurangnya kesadaran terhadap phishing merupakan beberapa risiko yang dapat muncul dari sisi pengguna.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
- Belum pernah ada security awareness training untuk karyawan
- Tidak ada program simulasi phishing
- Banyak akun menggunakan password yang lemah atau berulang
- Hak akses karyawan tidak pernah ditinjau
- Karyawan tidak mengetahui prosedur ketika terjadi insiden keamanan
- Akses mantan karyawan belum selalu dicabut secara konsisten
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan keamanan siber untuk bisnis tidak hanya berkaitan dengan firewall atau antivirus. Perusahaan juga membutuhkan pendekatan yang mencakup manusia, proses, dan teknologi.
5. Sistem IT Semakin Kompleks Seiring Pertumbuhan Bisnis
Pertumbuhan bisnis biasanya diikuti dengan bertambahnya sistem, aplikasi, pengguna, dan data yang perlu dikelola. Ketika perusahaan mulai menggunakan lebih banyak layanan cloud, mengintegrasikan sistem pihak ketiga, atau membuka akses dari luar jaringan internal, maka lingkungan IT pun menjadi semakin kompleks.
Pada tahap awal, pengelolaan keamanan mungkin masih dapat dilakukan oleh tim IT yang ada. Namun, seiring berkembangnya bisnis, tanggung jawab keamanan akan semakin besar.
Perusahaan perlu mulai mempertimbangkan dukungan spesialis keamanan siber ketika:
- Infrastruktur IT berkembang dengan cepat
- Penggunaan layanan cloud semakin luas
- Jumlah aplikasi dan integrasi pihak ketiga bertambah
- Volume data pelanggan yang dikelola semakin besar
- Semakin banyak sistem yang dapat diakses dari luar jaringan internal
- Tim IT kesulitan melakukan monitoring dan security assessment secara rutin
Dalam kondisi tersebut, spesialis keamanan siber bisa membantu perusahaan untuk mengelola risiko yang turut berkembang seiring pertumbuhan bisnis. Perusahaan pun bisa melakukan ekspansi sistem dan layanan dengan mempertimbangkan aspek keamanan.
Apa Risikonya Jika Penguatan Keamanan Ditunda?
Menunda penguatan keamanan mungkin terlihat lebih sederhana karena perusahaan belum perlu mengalokasikan sumber daya tambahan. Namun, ketika terjadi insiden, dampaknya dapat meluas ke operasional, data, hingga kepercayaan pelanggan.
Beberapa dampak yang mungkin dihadapi perusahaan antara lain:
- Gangguan operasional dan downtime
- Biaya investigasi dan pemulihan sistem
- Kehilangan atau pemulihan data
- Gangguan terhadap layanan pelanggan
- Menurunnya kepercayaan pelanggan dan mitra
- Kewajiban penanganan insiden dan pemenuhan regulasi
- Potensi konsekuensi hukum atau sanksi sesuai ketentuan yang berlaku
Karena itu, keamanan siber sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai biaya yang perlu dikeluarkan perusahaan. Perusahaan juga perlu mempertimbangkan nilai data, sistem, operasional, dan kepercayaan pelanggan yang perlu dilindungi.
Pengalaman DSG Menangani Risiko Keamanan Siber
Kebutuhan akan spesialis keamanan siber semakin terlihat ketika perusahaan menghadapi insiden dan membutuhkan penilaian yang lebih menyeluruh terhadap kondisi keamanannya.
Salah satu contohnya adalah proyek vulnerability assessment yang pernah ditangani DSG untuk sebuah bank swasta nasional. Proyek ini dilakukan setelah situs klien mengalami peretasan dan harus dinonaktifkan sementara.
Melalui pengujian keamanan selama satu bulan, tim DSG menemukan 15 kerentanan dengan tingkat keparahan yang beragam. Temuan tersebut kemudian menjadi dasar bagi perusahaan untuk melakukan perbaikan pada sistem yang diuji.
Setelah proses remediasi selesai, pengujian kembali menunjukkan bahwa tidak terdapat kerentanan aktif yang tersisa dalam ruang lingkup pengujian.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa insiden keamanan dapat menjadi momentum bagi perusahaan untuk mengevaluasi kembali kondisi keamanannya. Dengan dukungan spesialis yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan, perusahaan dapat mengetahui risiko yang sebelumnya belum terlihat dan menentukan langkah perbaikan dengan lebih terarah.
Rekrut Spesialis Keamanan Siber atau Gunakan Jasa Eksternal?
Ketika kebutuhan keamanan perusahaan mulai meningkat, tidak selalu berarti perusahaan harus langsung membangun tim cybersecurity sendiri. Pilihan yang paling sesuai bergantung pada skala bisnis, kompleksitas sistem, frekuensi kebutuhan, dan kemampuan tim internal.
Secara umum:
- Tim internal dapat menjadi pilihan ketika perusahaan memiliki kebutuhan keamanan yang berlangsung terus-menerus dan membutuhkan pengelolaan khusus.
- Spesialis eksternal dapat dipertimbangkan untuk kebutuhan seperti security assessment, penetration test, audit, atau kompetensi tertentu yang belum tersedia di tim internal.
- Pendekatan hybrid dapat menjadi pilihan ketika perusahaan ingin mempertahankan tim IT internal sekaligus mendapatkan dukungan spesialis untuk kebutuhan keamanan tertentu.
Pada akhirnya, pertanyaan utamanya bukan sekadar apakah perusahaan perlu merekrut spesialis keamanan siber, tetapi apakah kemampuan keamanan yang dimiliki saat ini sudah sesuai dengan risiko yang harus dikelola.
Jika masih terdapat kesenjangan, langkah awal dapat dilakukan melalui asesmen untuk memahami kondisi keamanan perusahaan dan menentukan kebutuhan yang paling tepat.
Hubungi tim kami untuk menjadwalkan konsultasi gratis terkait asesmen serta memberikan rekomendasi berdasarkan kondisi dan kebutuhan keamanan perusahaan.



















