Tips Memilih Ahli Keamanan Siber Sesuai Kebutuhan Perusahaan

ahli keamanan siber

Daftar Isi

Ketika serangan siber terjadi, perusahaan tidak hanya membutuhkan teknologi, tetapi juga orang yang tahu apa yang harus dilakukan. Namun, menemukan ahli keamanan siber yang benar-benar kompeten bukan perkara mudah. Talenta dengan keahlian dan pengalaman yang sesuai masih terbatas, sementara kebutuhan keamanan perusahaan terus berkembang.

Kesenjangan kompetensi bisa membuat celah keamanan terlewat dan memperlambat respons ketika insiden terjadi. Lantas, seperti apa ahli keamanan siber yang sebenarnya dibutuhkan perusahaan?

Kapan Perusahaan Membutuhkan Ahli Keamanan Siber?

Tidak semua perusahaan membutuhkan tim keamanan siber sejak awal. Namun, semakin tinggi risiko dan ketergantungan bisnis terhadap teknologi, semakin penting pula untuk memiliki orang yang mampu mengelola keamanan secara khusus.

Beberapa tanda berikut dapat menjadi indikator bahwa perusahaan mulai membutuhkan ahli keamanan siber:

1. Mengelola data sensitif dalam jumlah besar

Data pelanggan, informasi keuangan, kredensial akun, hingga informasi internal yang bersifat rahasia memiliki risiko tinggi jika bocor atau disalahgunakan. 

Kewajiban perlindungan data juga semakin penting sejak berlakunya UU No. 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP).

Baca Juga : Risiko Kebocoran Data dan Dampaknya pada UU PDP

2. Operasional sangat bergantung pada sistem digital

Bagi perusahaan yang mengandalkan aplikasi, cloud, jaringan, atau sistem digital untuk menjalankan bisnis, gangguan keamanan bukan sekadar masalah teknis. Downtime dapat menghentikan operasional, mengganggu layanan pelanggan, dan menimbulkan kerugian finansial.

3. Memiliki tuntutan kepatuhan tertentu

Perusahaan di sektor seperti keuangan, misalnya, perlu memenuhi ketentuan keamanan dan manajemen risiko teknologi informasi yang ditetapkan regulator. Dalam kondisi seperti ini, perusahaan membutuhkan kompetensi yang mampu menerjemahkan persyaratan tersebut ke dalam kontrol keamanan yang benar-benar diterapkan.

4. Pernah mengalami insiden keamanan

Ransomware, phishing yang berhasil, akun yang diambil alih, atau kebocoran data seharusnya tidak berhenti pada proses pemulihan. Perusahaan perlu mencari tahu bagaimana insiden terjadi, apa celah yang dimanfaatkan, dan langkah apa yang harus dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang.

5. Permukaan serangan semakin luas

Pertumbuhan bisnis biasanya diikuti bertambahnya perangkat, aplikasi, integrasi cloud, akun pengguna, remote access, dan vendor pihak ketiga. Tanpa pengelolaan keamanan yang memadai, semakin banyak titik yang berpotensi menjadi pintu masuk bagi penyerang.

Bagi manajemen, kelima kondisi tersebut bisa menjadi sinyal untuk mengevaluasi apakah kemampuan keamanan siber perusahaan saat ini sudah sebanding dengan tingkat risikonya.

Kelebihan Tim Ahli Keamanan Siber In-House

Tim keamanan siber in-house berarti perusahaan merekrut dan menempatkan ahli keamanan siber sebagai bagian dari organisasi untuk menangani keamanan secara internal. 

Model ini memberikan beberapa keuntungan, terutama bagi perusahaan yang memiliki kebutuhan keamanan spesifik dan ingin membangun kapabilitas tersebut sebagai kompetensi jangka panjang.

1. Kontrol keamanan lebih dekat dengan kebutuhan bisnis

Tim internal bekerja langsung di dalam struktur perusahaan sehingga kebijakan, prioritas, dan kontrol keamanan dapat disesuaikan dengan kebutuhan bisnis. Perubahan konfigurasi, pembatasan akses, atau penerapan kebijakan baru juga dapat dikoordinasikan langsung dengan tim terkait tanpa bergantung pada proses di organisasi eksternal.

2. Memahami lingkungan IT secara lebih mendalam

Seiring waktu, tim internal dapat membangun institutional knowledge mengenai infrastruktur, aplikasi, alur data, hingga kebiasaan pengguna di perusahaan. Pengetahuan ini bisa membantu tim untuk mengenali aktivitas yang tidak biasa dan memahami konteks ketika terjadi anomali keamanan.

Namun, keunggulan ini baru benar-benar terasa jika tim memiliki kompetensi dan dokumentasi yang baik. Lama bekerja di perusahaan saja tidak otomatis membuat seseorang mampu mengidentifikasi atau menangani ancaman siber secara efektif.

3. Koordinasi insiden dapat dilakukan secara langsung

Ketika terjadi insiden, tim keamanan internal dapat berkoordinasi langsung dengan IT, legal, HR, manajemen, maupun pemilik sistem yang terdampak. 

Jalur komunikasi yang lebih pendek sangat membantu perusahaan untuk mengambil keputusan dengan cepat, terutama ketika insiden membutuhkan tindakan seperti isolasi sistem, pencabutan akses, atau pemulihan layanan.

4. Pengetahuan keamanan tetap menjadi aset perusahaan

Dengan tim internal, pengalaman dan pengetahuan yang terkumpul selama menangani sistem maupun insiden menjadi modal penting untuk meningkatkan proses keamanan dari waktu ke waktu. 

Maka pastikan perusahaan memiliki dokumentasi, knowledge sharing, dan program pengembangan kompetensi yang konsisten.

5. Lebih leluasa membangun kapabilitas jangka panjang

Perusahaan bisa mengembangkan peran, prosedur, dan keahlian tim sesuai dengan roadmap keamanan yang dimiliki. Misalnya, organisasi dapat secara bertahap membangun kemampuan dalam security monitoring, incident response, vulnerability management, hingga security governance sesuai tingkat risiko dan kebutuhan bisnis.

Namun membangun tim keamanan siber in-house juga memiliki beberapa tantangan yang perlu diperhitungkan, seperti:

  • Biaya tinggi mencakup gaji, benefit, sertifikasi, pelatihan, tools, dan infrastruktur.
  • Talenta terbatas membuat perusahaan tidak selalu mudah menemukan ahli keamanan siber dengan kompetensi yang sesuai.
  • Kompetensi perlu terus diperbarui karena ancaman dan teknologi keamanan siber terus berkembang.
  • Ketergantungan pada tim internal dapat menimbulkan knowledge gap ketika anggota tim resign atau tidak tersedia.

Karena itu, perusahaan perlu memastikan memiliki sumber daya yang cukup untuk merekrut, mempertahankan, dan mengembangkan tim keamanan siber dalam jangka panjang.

Baca Juga : Jasa IT Security Profesional untuk Lindungi Bisnis Anda

Kelebihan Outsource Ahli Keamanan Siber

Outsource berarti perusahaan bekerja sama dengan penyedia layanan keamanan siber eksternal, baik dalam bentuk Managed Security Service Provider (MSSP) maupun konsultan untuk kebutuhan tertentu. 

Model ini dapat menjadi pilihan ketika perusahaan membutuhkan keahlian khusus, tetapi belum memiliki kapasitas atau sumber daya untuk membangun seluruh kompetensi tersebut secara internal.

1. Akses ke keahlian yang lebih beragam

Satu penyedia layanan dapat memiliki tenaga dengan spesialisasi berbeda, seperti security analyst, penetration tester, incident responder, hingga konsultan keamanan dan compliance. 

Bagi perusahaan yang tim IT masih terbatas, model ini memungkinkan akses ke beberapa kompetensi tanpa harus merekrut setiap spesialis sebagai karyawan tetap.

2. Tidak perlu membangun seluruh kapabilitas dari nol

Perusahaan dapat memanfaatkan proses, metodologi, tools, dan pengalaman yang sudah dimiliki penyedia layanan. Hal ini dapat membantu mempercepat penerapan layanan tertentu, terutama ketika perusahaan belum memiliki prosedur atau sumber daya yang diperlukan untuk menjalankannya sendiri.

Namun, kecepatan implementasi tetap bergantung pada ruang lingkup layanan, kompleksitas lingkungan IT, serta kesiapan perusahaan dalam memberikan akses dan informasi yang dibutuhkan.

3. Lebih fleksibel untuk kebutuhan tertentu

Tidak semua perusahaan membutuhkan spesialis keamanan siber secara penuh waktu. Untuk kebutuhan seperti penetration testing, vulnerability assessment, security audit, incident response, atau persiapan sertifikasi dan kepatuhan, perusahaan dapat menggunakan tenaga ahli hanya ketika kompetensi tersebut dibutuhkan.

Model ini memungkinkan perusahaan mengalokasikan sumber daya sesuai prioritas dan tingkat risiko bisnis.

4. Mendapatkan perspektif dari pengalaman lintas lingkungan

Penyedia layanan yang menangani berbagai organisasi dapat membawa pengalaman dari beragam jenis lingkungan IT dan skenario keamanan. 

Perspektif eksternal ini dapat membantu perusahaan menemukan blind spot yang mungkin tidak terlihat oleh tim yang sehari-hari hanya berfokus pada lingkungan internal.

Meski demikian, pengalaman lintas klien bukan jaminan bahwa penyedia layanan memahami konteks bisnis perusahaan secara otomatis. Proses onboarding, dokumentasi, dan komunikasi yang baik tetap diperlukan agar rekomendasi keamanan sesuai dengan kondisi sebenarnya.

5. Beban pengelolaan kompetensi internal dapat lebih ringan

Ketika layanan tertentu dialihkan kepada pihak eksternal, perusahaan tidak perlu menanggung seluruh proses rekrutmen, pengembangan kompetensi, dan pengadaan tools untuk membangun kapabilitas tersebut sendiri. Struktur biaya juga dapat disesuaikan dengan model layanan yang dipilih.

Namun, perusahaan tetap perlu menghitung total cost of ownership (TCO), termasuk biaya layanan, integrasi, kebutuhan tambahan di internal, serta kemungkinan biaya di luar cakupan kontrak. Jadi, outsource tidak selalu berarti lebih murah daripada membangun tim sendiri.

Kapan Outsource Lebih Masuk Akal?

Outsource dapat menjadi pilihan yang tepat ketika perusahaan:

  • Belum memiliki keahlian keamanan siber yang dibutuhkan secara internal.
  • Memiliki tim IT yang terbatas sehingga belum mampu menangani seluruh kebutuhan keamanan.
  • Membutuhkan spesialisasi tertentu secara berkala, seperti penetration testing, security assessment, atau audit keamanan.
  • Membutuhkan dukungan tambahan untuk menutup kesenjangan kompetensi tanpa harus membangun tim baru dari awal.

Sebelum memilih penyedia layanan, perusahaan juga perlu mempertimbangkan:

  • Kompetensi dan sertifikasi tim yang akan menangani keamanan perusahaan.
  • Pengalaman penyedia layanan dalam menangani lingkungan IT atau industri yang serupa.
  • Cakupan layanan dan SLA yang ditawarkan, termasuk mekanisme eskalasi ketika terjadi insiden.
  • Pengelolaan akses dan data untuk memastikan sistem serta informasi perusahaan tetap terlindungi.

Dengan begitu, outsource bukan sekadar cara untuk “meminjam tenaga ahli”, tetapi dapat menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk menutup kesenjangan kemampuan keamanan siber secara terukur.

Faktor yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Memutuskan Rekrut Ahli Keamanan Siber

Tidak ada satu model yang cocok untuk semua perusahaan. Pilihan in-house, outsource, atau hybrid sebaiknya disesuaikan dengan risiko, kebutuhan bisnis, kapabilitas internal, dan sumber daya yang tersedia.

Baca Juga : 11 Daftar Perusahaan Cyber Security di Indonesia

Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan meliputi:

1. Ukuran dan kompleksitas IT

Jumlah pengguna, aplikasi, perangkat, cloud, hingga akses pihak ketiga memengaruhi kompleksitas keamanan. Lingkungan yang semakin kompleks mungkin membutuhkan kombinasi sumber daya internal dan eksternal.

2. Anggaran dan TCO

Bandingkan total cost of ownership (TCO), bukan hanya gaji tim atau biaya vendor. Perhitungkan rekrutmen, benefit, sertifikasi, pelatihan, tools, infrastruktur, implementasi, dan layanan tambahan.

3. Regulasi dan kepatuhan

Jenis data dan industri menentukan kewajiban keamanan yang perlu dipenuhi. Perusahaan juga perlu memastikan model yang dipilih mampu mendukung audit, dokumentasi, kontrol akses, risk assessment, dan pelaporan insiden sesuai regulasi yang berlaku.

4. Tingkat risiko

Pertimbangkan dampak serangan terhadap operasional, pendapatan, dan data perusahaan. Riwayat insiden, sistem yang terekspos internet, dan aset kritis dapat menjadi indikator kebutuhan penguatan keamanan yang lebih mendesak.

5. Kompetensi tim internal

Tim IT belum tentu memiliki keahlian khusus seperti penetration testing, threat detection, atau incident response. Jika terdapat kesenjangan kompetensi, tenaga eksternal dapat menjadi pelengkap.

6. Kebutuhan jangka panjang

Pertimbangkan rencana ekspansi, migrasi cloud, pertumbuhan pengguna, dan perubahan regulasi agar model keamanan dapat mengikuti perkembangan bisnis.

Perusahaan tidak harus memilih 100% in-house atau outsource. Pendekatan hybrid juga dapat digunakan dengan tim internal untuk kebutuhan harian dan spesialis eksternal untuk kebutuhan seperti assessment, audit, penetration testing, atau incident response.

Butuh Partner Terpercaya untuk Mengelola Keamanan Siber Perusahaan?

Keamanan siber membutuhkan lebih dari sekadar tools. Perusahaan perlu memiliki strategi, kompetensi, dan proses yang mampu mengidentifikasi risiko serta merespons ancaman secara tepat sesuai kondisi bisnis.

Jika kapabilitas internal belum mencakup seluruh kebutuhan tersebut, DSG dapat membantu perusahaan membangun dan memperkuat kapabilitas keamanan sibernya. Melalui layanan seperti Vulnerability Assessment and Penetration Testing (VAPT), security assessment, dan konsultasi keamanan, DSG membantu mengidentifikasi celah, mengevaluasi risiko, serta memberikan rekomendasi penguatan berdasarkan kondisi lingkungan IT perusahaan.

Dengan dukungan tim yang memahami kebutuhan keamanan siber dari sisi teknis maupun bisnis, perusahaan dapat menentukan prioritas pengamanan tanpa harus membangun seluruh kapabilitas dari awal.

Konsultasikan kebutuhan keamanan siber perusahaan Anda dengan DSG untuk mendapatkan pendekatan yang disesuaikan dengan tingkat risiko, kompleksitas lingkungan IT, dan tujuan bisnis Anda.

Isi form berikut! Tim kami segera menghubungi Anda.

Picture of Nadia Kamila

Nadia Kamila

Hi, I'm Nadia Lidzikri Kamila, an SEO Content Writer specializing in cybersecurity and digital security. Focused on creating well-researched content on malware, ransomware, antivirus solutions, and data protection to help users stay safe in the digital world.