Deteksi Bugs Keamanan dengan Security Testing Launch

Security Testing Launch

Daftar Isi

Berdasarkan laporan PurpleSec tahun 2025, aplikasi yang sudah live menghadapi rata rata 81 serangan layak setiap bulannya. 

Dalam 24 jam pertama setelah go-live, sistem Anda bisa diserang hingga puluhan kali. Karena itu, Anda tidak bisa meluncurkan aplikasi tanpa melakukan security testing launch terlebih dahulu.

Artikel ini hadir untuk membantu tim IT Anda melakukan mitigasi risiko sejak dini, simak sampai selesai ya!

Mengapa Security Testing Wajib Dilakukan Sebelum Launch

Tanpa security testing yang memadai, bugs keamanan yang seharusnya bisa ditemukan sejak dini akan ikut terbawa hingga ke lingkungan production.

1. Data dan regulasi

Indonesia memiliki regulasi Undang Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP), selain itu terdapat standar internasional seperti ISO 27001 yang mewajibkan perusahaan memastikan keamanan data sebelum sistem dioperasikan. 

Testing ini akan memeriksa apakah sistem Anda benar-benar aman sebelum dinyatakan layak tayang. Jika celah ditemukan setelah aplikasi live dan data pelanggan bocor, konsekuensinya sangat berat. 

Perusahaan Anda bisa mendapatkan sanksi berupa denda hingga pencabutan izin usaha.

2. Reputasi

Jika bisnis Anda melayani klien korporat, hal ini dapat berdampak buruk pada reputasi perusahaan. Klien mempercayakan data pelanggan mereka kepada Anda. 

Sehingga ketika ada insiden keamanan yang membuat data menjadi bocor, bisa menutup kontrak dan kepercayaan yang sudah dibangun bertahun tahun.

3. Biaya

Memperbaiki kerentanan setelah aplikasi rilis memakan biaya 30 kali lebih mahal dibanding perbaikan sebelum launch. 

Mengapa bisa begitu mahal? 

Karena setelah aplikasi berjalan, tim IT tidak bisa sembarangan memperbaiki sistem. Ada proses rollback, patch darurat, komunikasi krisis ke pelanggan, waktu downtime, hingga biaya tim yang lembur di luar jam kerja.

Kapan Waktu yang Tepat untuk Melakukan Security Testing Launch

Frekuensi security testing tidak kaku pada satu angka pasti dan semuanya tergantung pada siklus pengembangan yang tim Anda gunakan. 

Namun berikut ini standar praktis yang bisa diikuti:

1. Testing setiap ada perubahan kode

Di fase pengembangan ini, jika perusahaan Anda sudah menerapkan DevSecOps, pengujian akan berjalan otomatis melalui pipeline CI/CD. 

Dua jenis pengujian yang wajib dilakukan adalah SAST atau Static Analysis yang mengecek kerentanan langsung di level kode sumber, serta SCA atau Software Composition Analysis untuk memastikan tidak ada library pihak ketiga yang memiliki celah keamanan. 

Hal ini menjadi langkah awal yang bagus karena bugs keamanan dicegat sejak masih berupa kode.

2. Pengujian komprehensif di lingkungan staging sebelum go live

Agar hasil pengujian akurat, maka lingkungan staging harus mirip dengan production. 

Di fase ini, gunakan DAST atau Dynamic Analysis untuk mencari celah seperti SQL injection dan cross site scripting saat aplikasi sedang berjalan. Lengkapi juga dengan Vulnerability Assessment untuk memindai infrastruktur dan aplikasi secara menyeluruh.

3. Penetration Testing untuk aplikasi dengan data sensitif

Untuk rilis besar atau aplikasi yang menangani data sensitif, lakukan penetration testing secara manual. Pengujian ini harus dilakukan oleh ahli keamanan, minimal satu kali setahun atau setiap kali ada perubahan arsitektur besar. 

Jika aplikasi Anda berkaitan dengan kepatuhan seperti ISO 27001 atau regulasi BSSN, penetration testing ini sifatnya wajib sebelum sistem dinyatakan layak tayang. 

Hasil dari pengujian ini juga akan menjadi dokumen penting dalam go-live audit yang dilakukan oleh tim internal atau regulator.

Dengan mengikuti panduan ini, rilis aplikasi Anda akan jauh lebih aman dan terhindar dari insiden yang merugikan di hari pertama peluncuran.

Checklist Security Testing Sebelum Go-Live

Berikut daftar yang harus diperiksa tim IT sebelum sistem masuk ke lingkungan production. Checklist ini juga menjadi bahan verifikasi saat audit berlangsung.

1. Autentikasi dan kontrol akses

  • MFA atau multi factor authentication aktif untuk semua akses admin dan akun privileged
  • Tidak ada default credential yang tersisa di panel admin, database, atau konfigurasi sistem
  • Session timeout diatur maksimal 30 menit untuk sesi tidak aktif
  • Login rate limiting aktif dengan batas percobaan sebelum lockout atau CAPTCHA

2. Jaringan dan infrastruktur

  • Port yang tidak diperlukan sudah ditutup
  • Aturan firewall sudah divalidasi oleh tim keamanan
  • Sertifikat SSL atau TLS valid dan aktif
  • Konfigurasi auto renewal untuk sertifikat agar tidak kedaluwarsa
  • Security headers terpasang seperti CSP, HSTS, dan X Frame Options

3. Aplikasi dan API

  • Input validation berjalan di semua endpoint untuk mencegah SQL injection dan XSS
  • Autentikasi API aktif dan tidak ada endpoint publik tanpa autentikasi
  • Data sensitif tidak muncul di log aplikasi, pesan error, atau respons API

4. Enkripsi dan kepatuhan

  • Data sensitif terenkripsi saat disimpan atau at rest
  • Data sensitif terenkripsi saat dikirim atau in transit

Jenis Security Testing Launch yang Direkomendasikan

Berikut penjelasan empat jenis security testing launch yang direkomendasikan:

1. SAST (Static Application Security Testing)

SAST dilakukan di fase development dan bekerja dengan menganalisis kode sumber secara statis tanpa menjalankan aplikasi. 

SAST mampu menemukan bugs seperti SQL injection dan hardcoded credentials sejak dini. Hasil dari SAST adalah daftar kerentanan di level kode yang perlu diperbaiki developer.

2. DAST (Dynamic Application Security Testing)

DAST dilakukan di fase staging atau UAT dan bertujuan untuk  menguji aplikasi yang sedang berjalan, bukan kode sumbernya. 

DAST mencari bugs keamanan runtime seperti masalah autentikasi dan konfigurasi server yang salah. Hasil dari DAST adalah kerentanan yang muncul saat aplikasi dioperasikan.

3. VA (Vulnerability Assessment) 

Vulnerability Assessment dilakukan sekitar 4 hingga 6 minggu sebelum launch untuk memindai seluruh permukaan serangan sistem, termasuk jaringan, server, dan aplikasi. 

VA menggunakan tools otomatis seperti Nessus atau OpenVAS. Hasil dari VA adalah laporan kerentanan yang teridentifikasi lengkap dengan tingkat keparahannya. Laporan VA ini menjadi salah satu dokumen penting dalam go-live audit.

4. Pentest (Penetration Testing) 

Pentest dilakukan 2 hingga 4 minggu sebelum launch untuk menguji sistem dengan cara yang sama seperti peretas sungguhan. 

Berbeda dengan VA yang hanya memindai, Pentest benar benar mencoba mengeksploitasi bugs yang ditemukan. 

Hasil dari Pentest adalah laporan eksploitasi yang berhasil dilakukan beserta rekomendasi mitigasi. Pentest juga menguji apakah kerentanan yang ditemukan VA benar benar dapat dieksploitasi di dunia nyata. 

Siap Melakukan Security Testing Sebelum Launch

Bagi perusahaan, keamanan sistem bukan sekadar kewajiban teknis melainkan untuk memberikan kepercayaan kepada klien, regulator, dan mitra bisnis. 

Perusahaan yang mampu menunjukkan bukti pengujian keamanan sebelum produk diluncurkan akan lebih unggul saat negosiasi kontrak enterprise. 

Security testing sebelum launch juga bukan tentang mencari kesempurnaan karena tidak ada sistem yang sempurna. Melainkan fokus untuk memastikan bahwa bugs keamanan sudah dikelola dengan baik sebelum sistem berhadapan dengan dunia luar.

Jika perusahaan Anda sedang proses launching aplikasi atau platform baru, DSG siap membantu Anda untuk melakukan security testing launch secara profesional. 

Tim kami akan memastikan setiap bug terdeteksi sebelum go-live, dokumen go-live audit Anda lengkap dan valid, serta strategi mitigasi risiko launching berjalan efektif. Jangan tunda keamanan sistem Anda hingga setelah rilis, hubungi tim kami sekarang dan jadwalkan konsultasi awal gratis untuk keamanan perusahaan Anda.

Isi form berikut! Tim kami segera menghubungi Anda.

Picture of Nadia Kamila

Nadia Kamila

Hi, I'm Nadia Lidzikri Kamila, an SEO Content Writer specializing in cybersecurity and digital security. Focused on creating well-researched content on malware, ransomware, antivirus solutions, and data protection to help users stay safe in the digital world.