Jakarta, 30 Juni 2026 — Meningkatnya ancaman ransomware, meluasnya attack surface akibat transformasi digital, serta kompleksitas pengelolaan berbagai solusi keamanan menjadi tantangan baru yang dihadapi banyak organisasi dalam membangun cyber resilience atau ketahanan siber. Tantangan tersebut menjadi salah satu sorotan utama dalam Executive Roundtable: Building Cyber Resilience for Indonesian Business yang diselenggarakan Digital Solusi Grup (DSG) bersama Bitdefender dan Ruijie di Pullman Hotel Central Park, Jakarta, Selasa (30/6).
Forum diskusi tertutup ini mempertemukan 36 eksekutif dari berbagai sektor industri untuk bertukar perspektif mengenai strategi membangun ketahanan siber yang lebih matang. Dalam forum ini, peserta bertukar pengalaman mengenai berbagai tantangan yang mereka hadapi dalam menjaga keamanan digital organisasi, mulai dari meningkatnya ancaman ransomware hingga keterbatasan sumber daya keamanan TI.
Urgensi tersebut sejalan dengan temuan dalam Verizon 2025 Data Breach Investigations Report (DBIR) yang menunjukkan bahwa hampir separuh insiden kebocoran data di dunia melibatkan ransomware.
Laporan yang sama juga mencatat bahwa sekitar 60% insiden dipicu oleh faktor manusia, 34% memanfaatkan vulnerabilities, dan 30% melibatkan third party. Angka ini menunjukkan bahwa tantangan keamanan siber saat ini tidak lagi hanya berasal dari malware, tetapi juga dari kompleksitas ekosistem digital yang terus berkembang.
Perkembangan adopsi cloud computing, perangkat Internet of Things, aplikasi kolaborasi, tenaga kerja jarak jauh, hingga pemanfaatan AI turut memperluas attack surface organisasi.
Akibatnya, perusahaan tak hanya dituntut mampu mendeteksi serangan ketika terjadi, tetapi juga membangun kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengurangi risiko sejak sebelum insiden berlangsung.
Bisnis Mulai Bergeser dari Menambah Tools Menuju Cyber Resilience

Sepanjang diskusi, para peserta membagikan berbagai tantangan yang mereka hadapi dalam menjaga keamanan digital organisasi. Beberapa diantaranya meliputi insiden web defacement, keterbatasan firewall konvensional dalam mengenali pola serangan modern, hingga meningkatnya kebutuhan terhadap layanan managed security akibat keterbatasan sumber daya internal.
Selain tantangan teknis, diskusi juga mengungkap perubahan cara pandang organisasi terhadap investasi keamanan siber. Jika sebelumnya banyak perusahaan berfokus menambah berbagai perangkat keamanan untuk menghadapi ancaman baru, kini semakin banyak organisasi mulai mempertanyakan efektivitas pendekatan tersebut ketika berbagai solusi yang digunakan belum terintegrasi dengan baik.
Fenomena tersebut dikenal sebagai tool sprawl, yaitu kondisi ketika organisasi menggunakan terlalu banyak solusi keamanan secara terpisah sehingga malah meningkatkan kompleksitas operasional.
Berdasarkan data yang dipaparkan Bitdefender, organisasi berskala besar rata-rata menggunakan sekitar 43 solusi keamanan yang berbeda, sementara 52% responden menyebut kompleksitas tersebut sebagai hambatan terbesar dalam operasional keamanan siber mereka.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa tantangan organisasi saat ini tak lagi sekadar memilih teknologi keamanan yang tepat, melainkan bagaimana mengintegrasikan berbagai lapisan perlindungan agar lebih mudah dikelola, lebih cepat merespons ancaman, dan tetap efisien dari sisi operasional.
DSG: Cyber Resilience Perlu Disesuaikan dengan Tantangan Bisnis di Indonesia
Membuka Executive Roundtable, Pingkan Prischellia, Sales Head Digital Solusi Grup (DSG), menegaskan bahwa percepatan transformasi digital membuat kebutuhan organisasi terhadap keamanan siber tidak lagi dapat dipenuhi hanya dengan mengadopsi teknologi terbaru. Menurutnya, setiap organisasi memiliki tantangan operasional, tingkat kematangan keamanan, serta kebutuhan kepatuhan yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan yang lebih strategis.
“Melalui Executive Roundtable ini, kami ingin menghadirkan ruang diskusi yang mempertemukan eksekutif dengan para praktisi keamanan siber untuk membahas tantangan yang mereka hadapi. Bagi kami, membangun cyber resilience bukan hanya tentang menghadirkan teknologi terbaik di dunia, tetapi juga memastikan teknologi tersebut dapat menjawab kebutuhan operasional dan tujuan bisnis organisasi di Indonesia,” ujar Pingkan Prischellia, Sales Head Digital Solusi Grup (DSG).
Sebagai mitra konsultasi keamanan siber, DSG melihat bahwa kebutuhan pelanggan kini semakin bergeser dari sekadar mencari solusi keamanan menuju kebutuhan akan strategi yang lebih menyeluruh.
Organisasi tak hanya butuh perlindungan terhadap ancaman yang terus berkembang, tetapi juga pendampingan dalam menyusun tata kelola keamanan, memenuhi persyaratan kepatuhan, serta membangun kapabilitas keamanan yang dapat berkembang seiring pertumbuhan bisnis.
Bitdefender: Cyber Resilience Harus Dimulai Sebelum Serangan Terjadi

Menanggapi berbagai tantangan yang muncul dalam diskusi, Surya Dharma, Channel Sales Engineer Bitdefender, menjelaskan bahwa lanskap ancaman siber saat ini telah mengalami perubahan yang signifikan. Menurutnya, organisasi tidak lagi hanya berhadapan dengan malware yang semakin canggih, tetapi juga dengan semakin luasnya attack surface akibat adopsi cloud, aplikasi SaaS, perangkat Internet of Things (IoT), identitas digital, hingga pola kerja hybrid yang memperluas titik masuk bagi penyerang.
Di sisi lain, pemanfaatan AI juga mempercepat perkembangan teknik serangan sehingga organisasi yang masih mengandalkan pendekatan detection and response akan sulit mengejar pergerakan ancaman. Kondisi tersebut membuat pendekatan keamanan yang bersifat preventif menjadi semakin penting, terutama bagi organisasi dengan tim TI dan keamanan yang terbatas.
Menurut Surya, perubahan lanskap ancaman membuat organisasi perlu memiliki visibilitas yang lebih baik terhadap seluruh aset digital, sehingga potensi risiko dapat dikenali lebih awal sebelum berkembang menjadi insiden keamanan.
Untuk mendukung pendekatan tersebut, Bitdefender memperkenalkan GravityZone, platform keamanan siber yang dirancang untuk membantu organisasi mengelola keamanan di sepanjang cyber attack lifecycle. Platform ini mengintegrasikan kemampuan visibilitas terhadap aset digital, identifikasi kerentanan, perlindungan, deteksi, respons, hingga pemulihan insiden dalam satu platform terpadu.
Pendekatan ini juga didukung layanan Managed Detection & Response (MDR) yang memungkinkan organisasi memperoleh pemantauan ancaman selama 24/7 dari Security Operations Center (SOC), sehingga tim internal dapat lebih fokus pada aktivitas strategis tanpa harus menambah sumber daya keamanan yang besar.
Selain teknologi, Bitdefender juga menyoroti pentingnya tata kelola keamanan siber yang selaras dengan kebutuhan kepatuhan organisasi. Melalui layanan konsultasi keamanan siber yang telah terakreditasi CREST, perusahaan membantu organisasi melakukan asesmen keamanan, pengujian penetrasi (penetration testing), penyusunan kebijakan keamanan informasi, hingga pendampingan implementasi standar seperti ISO 27001 maupun berbagai regulasi sektor industri.
Ruijie: Keamanan Jaringan Perlu Beradaptasi dengan Pola Serangan Modern

Pandangan serupa disampaikan Rully Abdillah, Indonesia Technical Manager Ruijie. Menurutnya, perubahan pola serangan siber juga menuntut organisasi untuk mengevaluasi kembali keamanan pada lapisan jaringan (network security), yang masih menjadi salah satu titik masuk utama bagi berbagai jenis serangan.
Dalam diskusi, ia menjelaskan bahwa berbagai organisasi masih menghadapi tantangan dalam melindungi aplikasi lama (legacy applications) maupun layanan yang diakses melalui internet. Serangan seperti web defacement maupun brute-force attack kini semakin sulit dikenali karena dilakukan secara bertahap dan menyerupai aktivitas pengguna yang sah, sehingga kerap lolos dari mekanisme deteksi firewall konvensional.
Menurut Rully, salah satu tantangan terbesar organisasi saat ini adalah banyaknya aplikasi legacy yang masih digunakan karena alasan operasional maupun kompatibilitas. Kondisi tersebut sering kali menciptakan celah keamanan yang sulit ditutup hanya melalui pembaruan sistem, sehingga dibutuhkan lapisan perlindungan tambahan pada sisi jaringan.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Ruijie memperkenalkan Cybrey CF Series Next-Generation Firewall (NGFW) yang mengkombinasikan kemampuan Web Application Firewall (WAF), analisis perilaku jaringan (behavior analysis), serta deteksi berbasis kecerdasan buatan guna membantu organisasi mengidentifikasi aktivitas mencurigakan secara lebih akurat. Solusi tersebut juga dirancang agar dapat diimplementasikan oleh organisasi dengan tim TI yang ramping, sehingga perusahaan dapat meningkatkan keamanan jaringan tanpa menambah kompleksitas operasional.
Acara ini merupakan bagian dari upaya DSG untuk terus menghadirkan forum berbagi wawasan yang mempertemukan pelaku industri dengan mitra teknologi global dalam mendukung peningkatan ketahanan siber organisasi di Indonesia.
Melalui Executive Roundtable ini, DSG ingin mendorong kolaborasi dan pertukaran perspektif mengenai tantangan keamanan siber yang terus berkembang. Dengan menghadirkan solusi teknologi global yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis lokal, DSG berharap dapat membantu organisasi membangun cyber resilience yang lebih matang sekaligus meningkatkan kesiapan menghadapi ancaman siber di masa depan.










