Apakah Anda pernah merasa sistem perusahaan sudah aman karena sudah ada firewall dan antivirus terpasang? Kalau iya, Anda tidak sendirian.
Kebanyakan orang mengira bahwa contoh keamanan siber sebatas dua hal itu, padahal masih banyak celah yang lebih sederhana dan sering luput dari perhatian tim IT sendiri.
DSG sendiri telah banyak mengevaluasi dan menguji sistem operasional perusahaan dan kami menemukan bahwa celah berbahaya bukan dibobol oleh hacker dengan serangan canggih ala film Hollywood. Justru celah keamanan seringkali muncul dari hal-hal kecil yang bahkan tidak disadari keberadaannya sama sekali.
Kenapa Celah Keamanan Justru Sering Luput dari Perhatian?
Berdasarkan pengalaman DSG ketika menguji sistem di berbagai sektor, mulai dari perbankan, logistik, hingga government, kami menemukan pola yang mirip.
Sebagian besar masalah keamanan terjadi bukan karena teknik hacker yang rumit, tetapi karena basic security hygiene yang tidak dijaga dengan konsisten.
Artinya, celah-celah ini bukan sesuatu yang butuh keahlian tinggi untuk dieksploitasi. Banyak di antaranya bisa ditemukan dan dimanfaatkan hanya dengan mengubah sedikit parameter di URL atau mencoba kombinasi login yang paling umum.
Nah, justru karena terlihat sepele, maka celah semacam ini sering terlewat dari radar tim IT Anda.
Baca Juga : 3 Celah Keamanan Digital di Balik Kasus Pig Butchering
Contoh Keamanan Siber yang Sering Diabaikan
Berikut beberapa contoh keamanan siber yang sering kami temukan saat pengujian keamanan:
1. Sistem dengan Pakai Konfigurasi Default
Salah satu temuan paling umum adalah misconfiguration. Contohnya seperti:
- Debug mode yang masih menyala di lingkungan production
- Port yang seharusnya tertutup tapi malah terbuka
- Pengaturan CORS yang terlalu longgar
- Directory listing yang aktif sehingga struktur folder server bisa dilihat siapa saja.
Salah satu kasus yang kami temukan adalah server production yang sudah digunakan oleh ribuan pengguna masih memakai login default seperti “admin/admin”. Padahal, kredensial default seperti ini mudah ditebak dan bisa membuka akses ke sistem bagi pihak yang tidak berkepentingan.
2. Broken Access Control Lewat URL
Celah ini hampir selalu ditemukan di hampir semua sistem yang diuji di mana user bisa bisa mengakses data milik pengguna lain hanya dengan mengganti ID di URL, misalnya dari /user/101 menjadi /user/102.
Dalam kasus yang lebih parah, celah ini bahkan bisa dimanfaatkan untuk eskalasi hak akses dari pengguna biasa menjadi admin.
Eksploitasi celah ini bahkan tidak memerlukan skill hacking tinggi. Siapa pun yang cukup jeli mengamati pola URL bisa mencobanya.
3. Perangkat IoT Tanpa Autentikasi
Selain sistem berbasis web yang rentan, perangkat IoT di lingkungan kantor juga kerap luput dari perhatian.
Kami juga pernah menemukan sistem kontrol lampu dan kipas kantor yang tidak dilengkapi autentikasi. Artinya, siapa pun yang berhasil mengaksesnya bisa mematikan lampu dan kipas dari jarak jauh.
Kedengarannya sepele, tapi ini menunjukkan bahwa perangkat pendukung operasional pun bisa jadi pintu masuk bagi peretas kalau tidak diamankan dengan benar.
Baca Juga : Pentest IoT: Uji Keamanan Perangkat Internet of Things
4. Validasi yang Hanya Ada di Sisi Pengguna
Celah berikutnya adalah bypass authentication. Celah ini terjadi ketika validasi login hanya dilakukan di sisi frontend, sementara server tidak memverifikasi token yang dikirim.
Ditambah lagi dengan session management yang lemah, celah ini memungkinkan seseorang untuk login tanpa kredensial yang sah.
5. Faktor Human Error dari Karyawan
Tahukah Anda bahwa human error adalah jalan pintas paling efektif untuk masuk ke sistem perusahaan?
Phishing, social engineering, dan kebiasaan memakai kata sandi yang lemah masih menjadi penyebab utama kebocoran data di banyak organisasi.
Sekuat apa pun firewall dan sistem keamanan yang terpasang, semuanya bisa runtuh ketika karyawan klik tautan phishing.
Contoh Keamanan Siber untuk Menutup Celah yang Sering Terlewat
Kabar baiknya, menutup celah-celah di atas tak selalu butuh investasi besar. Berikut best practice DSG yang bisa Anda terapkan pada sistem bisnis:
- Aktifkan MFA di semua akun penting, terutama email dan admin panel. Langkah ini bisa menutup sebagian besar risiko pencurian kredensial.
- Rutin update sistem, minimal sebulan sekali untuk OS, framework, dan library yang digunakan.
- Adakan security awareness training untuk karyawan. Khususnya terkait edukasi phishing, social engineering, dan kebiasaan menjaga kata sandi.
- Audit konfigurasi dan access control secara berkala, agar celah misconfiguration atau broken access control bisa ditemukan lebih awal.
Beberapa contoh keamanan siber di atas justru lebih berdampak secara langsung dibanding investasi pada tools keamanan yang mahal tapi tidak diimbangi kebiasaan yang benar.
Baca Juga : Urgensi Keamanan Siber di Indonesia untuk Bisnis Anda
Bangun Pertahanan Siber yang Lebih Kuat Bersama DSG
Banyak celah keamanan justru muncul dari kebiasaan sehari-hari, seperti mengklik tautan phishing, menggunakan password yang lemah, atau membagikan informasi sensitif tanpa menyadari risikonya. Karena itu, karyawan perlu dibekali kemampuan untuk mengenali dan merespons ancaman sejak awal.
Cybersecurity Awareness Training dari DSG membantu perusahaan membangun kebiasaan keamanan yang lebih baik, sehingga setiap karyawan tahu cara mengenali ancaman dan menjaga keamanan data dalam aktivitas sehari-hari.
Belum yakin training seperti apa yang dibutuhkan tim Anda? Hubungi tim kami untuk mendapatkan konsultasi gratis dan menemukan program yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
FAQ tentang Contoh Keamanan Siber
1. Apa yang dimaksud dengan keamanan siber?
Keamanan siber adalah upaya melindungi sistem, jaringan, perangkat, dan data dari serangan atau akses yang tidak sah, baik dari luar maupun dalam perusahaan. Tujuannya untuk mencegah kebocoran data, gangguan operasional, dan kerugian akibat ancaman digital seperti malware, phishing, atau peretasan.
2. Apa saja contoh keamanan siber?
Beberapa contohnya: firewall, enkripsi data, autentikasi dua faktor (2FA), antivirus, backup data rutin, dan kontrol akses. Pelatihan kesadaran karyawan juga penting, karena banyak celah muncul dari faktor manusia.
3. Apa saja contoh kejahatan siber?
Beberapa contoh dari kejahatan siber adalah phishing, ransomware, pencurian identitas, peretasan akun, DDoS attack, dan penipuan online. Di perusahaan, kejahatan ini sering menyasar konfigurasi yang longgar atau karyawan yang belum terlatih.
4. Bagaimana cara tahu sistem perusahaan punya celah keamanan tersembunyi?
Cara paling efektif adalah melakukan pengujian keamanan atau audit konfigurasi secara berkala oleh tim yang berpengalaman.










