Cegah Data Bocor, 4 Langkah Pentest pada Sistem LLM dan AI

langkah-langkah pentest pada sistem LLM dan AI

Daftar Isi

Pernahkah Anda menghitung berapa banyak sistem LLM dan AI yang sudah diadopsi oleh perusahaan Anda tahun ini? 

Mulai dari chatbot layanan pelanggan, integrasi RAG, sampai AI agent untuk otomatisasi kerja, semuanya memang terbukti mendongkrak efisiensi bisnis. Namun, apakah sistem tersebut benar-benar aman?

Menariknya, celah keamanan pada AI itu sangat unik. Bukan hanya sebatas kerentanan kode yang biasa ditemukan pada aplikasi biasa, melainkan celah manipulasi logika dan risiko kebocoran data sensitif. 

Jadi, bagaimana langkah-langkah pentest pada sistem LLM dan AI untuk mitigasi risiko keamanannya? Simak jawabannya di artikel ini!

Mengapa Pentest AI Berbeda dengan Pentest Konvensional?

Sebelum membedah perbedaannya, mari kita samakan persepsi dulu mengenai apa itu penetration testing atau pentest. Sederhananya, pentest adalah simulasi serangan siber secara legal yang bertujuan untuk menemukan celah keamanan sebelum peretas sungguhan menemukannya.

Secara umum, pentest dilakukan pada website, aplikasi, jaringan maupun infrastruktur IT lainnya. Namun dengan adanya infrastruktur AI, ternyata membutuhkan tantangan yang berbeda dari pentest konvensional. Berikut adalah alasan mengapa pentest AI memiliki tantangan tersendiri:

1. Sifat Non-Deterministic

Aplikasi konvensional bersifat pasti, misalnya input A akan selalu menghasilkan output B. Namun, LLM justru berbasis probabilitas, artinya, input yang sama bisa menghasilkan output yang berbeda bergantung pada konteks dan parameter model. Hal ini membuat celah manipulasi logika menjadi lebih samar.

2. Pergeseran Fokus Eksploitasi

Pada sistem konvensional, pentester akan mencari kelemahan kode untuk menembus database. Sementara pada AI, serangan bergeser ke arah behavioral logic atau memanipulasi perilaku model agar melanggar batas aturan sistem (jailbreaking).

Validitas risiko ini bukan sekadar asumsi. Laporan dari OWASP LLM Framework menunjukkan bahwa taktik manipulasi input ini memiliki tingkat keberhasilan serangan hingga lebih dari 50 persen pada model AI yang tidak diaudit secara berkala. 

Hal ini membuktikan bahwa perlindungan standar dari penyedia model saja tidak akan cukup untuk menjaga keamanan data internal perusahaan Anda.

Baca Juga : Panduan Mencegah Kebocoran Data Lewat Prompt AI Perusahaan

4 Langkah-Langkah Pentest pada Sistem LLM dan AI 

Untuk mengaudit sistem kecerdasan buatan secara efektif, tentu tidak bisa asal menebak-nebak input. Butuh framework yang menggabungkan metodologi Penetration Testing Execution Standard (PTES) dengan OWASP Top 10 for LLM.

Melalui pendekatan ini, pengujian akan mencakup seluruh lapisan arsitektur AI, mulai dari input, proses inferensi model, hingga integrasi data internal perusahaan Anda. Berikut empat langkah-langkah pentest pada sistem LLM dan AI:

1. Reconnaissance dan Architecture Mapping 

Langkah awal ini fokus pada pemetaan menyeluruh terhadap ekosistem AI yang digunakan perusahaan Anda. Seorang pentester akan mengidentifikasi komponen arsitektur sistem, terutama untuk mengenali perbedaan penanganan keamanan antara dua model implementasi utama:

  • Model Komersial (Closed API): Infrastruktur yang memanfaatkan pihak ketiga seperti OpenAI GPT-4 atau Anthropic Claude melalui jalur API. Fokus pengujian berada pada keamanan integrasi data dan tata cara konsumsi token.
  • Model Mandiri (On-Premise Open Source): Infrastruktur yang menjalankan model secara mandiri di server lokal perusahaan menggunakan framework seperti Llama 3 atau Mistral. Pengujian di sini mencakup keamanan server fisik, hak akses, dan konfigurasi framework.

Selain model utama, aspek penting yang harus dipetakan adalah arsitektur Retrieval-Augmented Generation (RAG). RAG merupakan sistem yang menghubungkan LLM dengan pusat data internal perusahaan agar AI bisa memberikan jawaban yang akurat berdasarkan dokumen bisnis Anda. 

Pentester akan melacak jalur aliran data ini untuk menemukan semua titik masuk (entry point) tempat pengguna mengetikkan perintah (prompt), serta memetakan ke mana output atau respons dari model tersebut akan diteruskan.

2. Threat Modeling 

Setelah arsitektur ekosistem AI terpetakan dengan jelas, langkah berikutnya adalah menyusun skenario ancaman siber yang disesuaikan dengan profil bisnis aplikasi yang Anda miliki. 

Mengapa hal ini penting? Karena karakteristik serangan pada AI sangat bergantung pada fungsi operasional aplikasi tersebut di dalam perusahaan.

Sebagai contoh ada sistem AI yang dirancang untuk kebutuhan layanan pelanggan (customer service) di sektor perbankan. Model ancaman yang disusun oleh pentester akan fokus pada skenario spesifik yang membahayakan reputasi dan finansial, seperti:

  1. Manipulasi Instruksi Transaksi: Mensimulasikan bagaimana penyerang bisa mengelabui AI agar melakukan transfer dana ke rekening yang tidak sah.
  2. Akses Data Tanpa Izin: Menguji apakah pengguna biasa dapat memanipulasi obrolan untuk memancing AI menampilkan riwayat transaksi atau saldo milik nasabah lain.

Melalui threat modeling yang matang, tim pentester dapat menentukan prioritas pengujian dengan berfokus pada titik-titik yang paling rawan dieksploitasi oleh peretas.

3. Core Security Testing Execution

Tahap inti dari seluruh rangkaian langkah-langkah pentest pada sistem LLM dan AI. Di fase ini, pentester akan bertindak layaknya peretas sungguhan untuk membongkar sistem pertahanan AI melalui empat skenario serangan:

a. Prompt Injection (Direct dan Indirect)

Pentester akan melakukan pengujian direct injection atau jailbreaking untuk memaksa AI melompati batasan sistemnya sehingga model mau menghasilkan konten berbahaya. 

Selain itu, dilakukan juga pengujian indirect injection dengan menyisipkan instruksi jahat secara sembunyi-sembunyi ke dalam dokumen atau halaman web eksternal yang nantinya akan dibaca dan diproses oleh AI Anda.

Baca Juga : 6 Cara Mengamankan Data Perusahaan dari Prompt Injection

b. Insecure Output Handling

Menguji apa yang terjadi ketika respons dari LLM diterima oleh aplikasi penampung. Jika output dari AI tidak disanitasi dengan ketat, peretas bisa memanfaatkan celah ini untuk menyisipkan skrip berbahaya yang memicu serangan Cross-Site Scripting (XSS) atau bahkan eksekusi perintah jarak jauh (Remote Code Execution) di sisi pengguna.

c. Data Poisoning dan Sensitive Data Disclosure

Skenario ini bertujuan menguji apakah data sensitif korporasi yang tersimpan di dalam vector database dapat dipancing keluar secara sengaja menggunakan teknik rekayasa perintah (prompt engineering) yang manipulatif. Pentester juga mengecek kerentanan manipulasi basis data yang dapat merusak akurasi logika model.

d. Denial of Wallet (DoW)

Berbeda dengan serangan siber tradisional yang bertujuan melumpuhkan server (Denial of Service), DoW mengincar finansial perusahaan. Pentester akan mensimulasikan serangan berupa pengiriman instruksi berulang berskala besar yang memaksa AI melakukan komputasi berat, sehingga kuota token API habis seketika dan membengkakkan tagihan bulanan Anda.

4. Risk Analysis dan Remediation Reporting 

Setelah seluruh simulasi serangan selesai dijalankan, semua temuan celah keamanan akan dikumpulkan dan dianalisis secara mendalam. Pentester akan mengklasifikasikan setiap temuan ke dalam tingkatan risiko yang objektif, mulai dari skala Critical, High, Medium, hingga Low, berdasarkan potensi dampak kerugiannya terhadap bisnis.

Hasil akhir dari langkah ini adalah sebuah dokumen laporan teknis komprehensif yang berisi rekomendasi perbaikan. Laporan ini mencakup panduan aplikatif bagi tim engineer Anda, seperti:

  • Instruksi implementasi komponen LLM Guardrails untuk menyaring input dan output berbahaya secara otomatis.
  • Teknik penguatan validasi instruksi utama (system prompts validation) agar model tidak mudah terkecoh oleh manipulasi pengguna.

Amankan Sistem LLM dan AI Perusahaan bersama DSG 

Mengamankan teknologi kecerdasan buatan memang menghadirkan teka-teki tersendiri bagi tim IT. Tantangan terbesar dalam pentest AI terletak pada sifat respons model yang sangat dinamis dan mudah berubah (volatile). 

Karena model bekerja berdasarkan probabilitas, sebuah celah keamanan yang berhasil ditemukan hari ini bisa jadi tidak muncul saat diuji esok hari. Oleh karena itu, pentester harus melakukan simulasi berulang kali dengan memanipulasi parameter tingkat keacakannya (temperature parameter) guna memastikan konsistensi sistem pertahanan AI.

Melihat karakteristik tersebut, mengintegrasikan LLM ke dalam ekosistem bisnis tanpa audit berkala merupakan langkah yang sangat berisiko bagi reputasi dan finansial perusahaan. 

Jangan biarkan celah keamanan pada sistem AI menjadi titik lemah yang merugikan bisnis Anda. Digital Solusi Grup (DSG) hadir dengan tim ahli bersertifikasi yang siap melakukan audit keamanan siber mendalam pada infrastruktur teknologi terkini Anda. 

Terapkan langkah-langkah pentest pada sistem LLM dan AI secara sistematis, lalu lindungi aset digital serta model AI Anda dari risiko serangan siber sekarang juga melalui Jasa Penetration Testing DSG.

Jadwalkan konsultasi gratis dengan tim kami sekarang untuk mendiskusikan langkah-langkah pentest pada sistem LLM dan AI perusahaan Anda.

Isi form berikut! Tim kami segera menghubungi Anda.

Picture of Nadia Kamila

Nadia Kamila

Hi, I'm Nadia Lidzikri Kamila, an SEO Content Writer specializing in cybersecurity and digital security. Focused on creating well-researched content on malware, ransomware, antivirus solutions, and data protection to help users stay safe in the digital world.