Serangan siber di Indonesia terjadi setiap hari dalam jumlah yang sangat besar. Bentuknya pun beragam, mulai dari phishing, ransomware, hingga kebocoran data. Sayangnya, masih banyak perusahaan yang bertindak setelah ada insiden, bukan mencegah insiden sejak awal.
Oleh karena itu, perusahaan harus memiliki cyber security framework. Framework ini membantu perusahaan untuk mengelola risiko keamanan secara sistematis. Hasilnya strategi yang diterapkan tidak bersifat reaktif atau hanya menutup celah yang muncul.
Artikel DSG kali ini akan membahas pengertian cyber security framework, jenis-jenis yang paling banyak digunakan, serta cara memilih framework yang sesuai dengan kebutuhan bisnis Anda.
Apa Itu Cyber Security Framework?
Cyber security framework adalah kumpulan panduan, standar, dan praktik terbaik untuk membantu organisasi mengelola sekaligus mengurangi risiko keamanan siber.
Framework ini menjadi acuan perusahaan untuk mengidentifikasi aset penting, melindungi sistem dan data, mendeteksi ancaman, merespons insiden, hingga memulihkan operasional setelah serangan terjadi.
Agar lebih mudah dipahami, Anda bisa membayangkan framework sebagai kerangka bangunan. Sebuah gedung membutuhkan struktur yang kuat agar kokoh saat menghadapi berbagai tekanan.
Begitu pula dengan sistem keamanan perusahaan. Tanpa adanya kerangka yang jelas, upaya pengamanan cenderung berjalan sendiri-sendiri sehingga lebih mudah menyisakan celah.
Banyak pula yang mengira bahwa cyber security framework sama dengan security policy, padahal keduanya memiliki fungsi yang berbeda.
Security policy berisi aturan internal perusahaan, misalnya kebijakan penggunaan kata sandi atau pengaturan hak akses. Sementara itu, cyber security framework merupakan kerangka yang menjadi dasar dalam menyusun berbagai kebijakan tersebut.
Mengapa Bisnis Membutuhkan Cyber Security Framework?
1. Memenuhi Kepatuhan Regulasi
Perusahaan yang mengelola data pribadi di Indonesia wajib mematuhi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi. Selain itu, sektor jasa keuangan juga harus mengikuti ketentuan OJK, sedangkan koordinasi keamanan siber nasional berada di bawah BSSN.
Framework keamanan siber ini bisa membantu perusahaan memenuhi berbagai persyaratan tersebut.
Baca Juga : Risiko Kebocoran Data dan Dampaknya pada UU PDP
2. Mengurangi Risiko Kerugian
Serangan siber dapat menimbulkan kerugian yang tidak sedikit, mulai dari biaya pemulihan sistem, kehilangan data, hingga potensi sanksi dari regulator.
Dampaknya juga bisa meluas pada reputasi perusahaan dan menurunkan kepercayaan pelanggan.
3. Meningkatkan Kepercayaan Klien
Dalam kerja sama bisnis, terutama di sektor B2B, calon klien sering meminta bukti bahwa perusahaan telah menerapkan standar keamanan tertentu sebelum mempercayakan data atau sistem mereka.
Jenis-Jenis Cyber Security Framework yang Paling Populer
Berbagai organisasi di dunia menggunakan framework yang berbeda sesuai kebutuhan. Berikut beberapa framework yang paling umum diterapkan.
1. NIST Cyber Security Framework (NIST CSF)
NIST dikembangkan oleh National Institute of Standards and Technology dan menjadi salah satu framework yang paling banyak digunakan.
Framework ini memiliki lima fungsi, yaitu:
- Identify: untuk mengenali aset dan risiko.
- Protect: untuk melindungi sistem serta data.
- Detect: untuk mendeteksi ancaman atau aktivitas yang tidak wajar.
- Respond: untuk menangani insiden keamanan.
- Recover: untuk memulihkan operasional setelah insiden.
Karena sifatnya yang fleksibel, maka ramework NIST CSF bisa diterapkan oleh berbagai jenis organisasi, mulai dari UMKM hingga perusahaan berskala besar.
2. ISO/IEC 27001
ISO/IEC 27001 merupakan standar internasional untuk Information Security Management System (ISMS).
Baca Juga : 6 Manfaat ISO 27001 untuk Perusahaan dan Dampak untuk Bisnis
Berbeda dengan NIST CSF, standar ini dapat disertifikasi secara resmi. Oleh karena itu, ISO 27001 banyak dipilih oleh perusahaan yang ingin menunjukkan komitmen terhadap keamanan informasi kepada klien, mitra bisnis, maupun regulator.
3. CIS Controls
CIS Controls dikembangkan oleh Center for Internet Security dan berisi serangkaian kontrol keamanan yang praktis.
Framework ini banyak digunakan oleh tim IT karena memberikan langkah implementasi yang jelas sehingga perusahaan dapat memperkuat keamanan tanpa harus memulai dari proses yang rumit.
4. COBIT
COBIT (Control Objectives for Information and Related Technologies) lebih berfokus pada tata kelola teknologi informasi secara menyeluruh.
Selain aspek keamanan siber, framework ini juga membantu perusahaan menyelaraskan strategi bisnis, manajemen risiko, serta kepatuhan terhadap audit. Karena cakupannya lebih luas, COBIT umumnya diterapkan oleh organisasi besar.
Cara Memilih Cyber Security Framework yang Tepat
Tidak ada satu framework yang cocok untuk semua organisasi. Oleh karena itu, Anda perlu menyesuaikan pemilihan framework yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing perusahaan.
1. Pertimbangkan Ukuran dan Tingkat Kematangan Perusahaan
Perusahaan yang baru membangun program keamanan bisa mulai dengan NIST CSF atau CIS Controls karena implementasinya dapat dilakukan secara bertahap.
2. Perhatikan Regulasi Industri
Setiap sektor memiliki ketentuan yang berbeda. Misalnya, perusahaan jasa keuangan perlu mengikuti regulasi OJK, sedangkan perusahaan yang mengelola data pribadi harus memastikan penerapannya selaras dengan UU PDP.
Baca Juga : POJK 22/2023: Kewajiban Fintech Lindungi Data Pelanggan
3. Tentukan Kebutuhan Sertifikasi
Apabila perusahaan sering mengikuti tender atau bekerja sama dengan klien enterprise, sertifikasi ISO 27001 dapat menjadi nilai tambah yang meningkatkan kredibilitas.
4. Sesuaikan dengan Kapasitas Tim
Framework yang terlalu kompleks justru sulit dijalankan jika belum memiliki sumber daya yang memadai. Karena itu, pilihlah framework yang realistis untuk diterapkan, lalu tingkatkan secara bertahap seiring berkembangnya organisasi.
Langkah Awal Implementasi
Setelah menentukan framework yang sesuai, perusahaan dapat memulai implementasi melalui beberapa tahapan berikut.
- Melakukan penilaian terhadap kondisi keamanan siber saat ini.
- Menentukan framework yang paling sesuai dengan kebutuhan bisnis.
- Melakukan gap analysis untuk mengetahui perbedaan antara kondisi saat ini dan standar yang dipilih.
- Mengimplementasikan kontrol keamanan berdasarkan prioritas risiko.
- Melakukan audit serta evaluasi secara berkala agar framework tetap relevan terhadap perkembangan ancaman.
Idealnya, proses ini didampingi oleh tenaga profesional agar perusahaan dapat menentukan prioritas dengan tepat sejak awal.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menerapkan Cyber Security Framework
Beberapa perusahaan sudah mulai menerapkan framework, tetapi hasilnya belum optimal karena melakukan kesalahan berikut.
1. Menganggap Framework Sebagai Proyek yang Tidak Berkelanjutan
Ancaman siber senantiasa berkembang, oleh karena itu, framework juga harus dievaluasi dan diperbarui secara berkala, bukan hanya disusun sebagai dokumen.
2. Memilih Framework yang Terlalu Kompleks
Banyak perusahaan yang langsung mengejar sertifikasi tanpa membangun fondasi keamanan terlebih dahulu. Akibatnya, implementasi menjadi sulit dipertahankan dalam jangka panjang.
3, Tidak Melibatkan Seluruh Karyawan
Baca Juga : Kenapa Karyawan Perusahaan Perlu Cyber Security Training?
Keamanan siber bukan hanya tanggung jawab tim IT. Seluruh karyawan tetap wajib mengenali phishing dan menjaga kerahasiaan data, agar framework berjalan secara efektif.
Lindungi Bisnis dengan Cyber Security Framework yang Tepat
Cyber security framework bukan sekadar kumpulan standar atau dokumen kepatuhan, tetapi fondasi yang membantu perusahaan membangun sistem keamanan yang terstruktur dan siap menghadapi ancaman siber yang terus berkembang.
Dengan memilih framework yang sesuai dengan kebutuhan bisnis, peruahaan bisa mengelola risiko, meningkatkan kepercayaan pelanggan dan mitra, serta memenuhi berbagai persyaratan regulasi yang berlaku.
Jika perusahaan Anda ingin mulai menerapkan cyber security framework atau meningkatkan sistem keamanan yang sudah ada, pendampingan dari tim kami yang berpengalaman dapat membantu proses implementasi berjalan lebih efektif.
Tim DSG siap mendukung kebutuhan tersebut, mulai dari assessment awal, gap analysis, VAPT (Vulnerability Assessment and Penetration Testing), hingga konsultasi dan implementasi ISO/IEC 27001 sesuai kebutuhan bisnis Anda.



















