Vulnerability assessment (VA) adalah proses untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi kerentanan pada sistem, jaringan, aplikasi, atau aset TI lainnya. Proses ini bertujuan agar perusahaan mengetahui celah yang perlu diperbaiki sebelum dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab.
Untuk melakukan VA, tim IT dapat menggunakan berbagai vulnerability assessment tools untuk menemukan dan mengelola kerentanan. Tool yang digunakan pun cukup beragam, mulai dari vulnerability scanner untuk jaringan dan sistem hingga tool untuk aplikasi web, container, dan lingkungan cloud.
DSG merangkum 11 tools untuk vulnerability assessment yang bisa Anda pertimbangkan sesuai aset, kebutuhan pengujian, dan kemampuan tim.
11 Vulnerability Assessment Tools untuk Jaringan, Web, dan Cloud
Kebutuhan vulnerability assessment di setiap perusahaan berbeda-beda tergantung aset yang diperiksa. Berikut 11 tools yang bisa Anda pertimbangkan berdasarkan fungsi dan cakupan penggunaannya.
1. Nessus
Nessus merupakan vulnerability assessment tool dari Tenable yang dikembangkan sejak 1998. Tool ini berfokus pada pemeriksaan kerentanan pada sistem operasi, server, perangkat jaringan, database, dan web server.
Nessus dapat membantu tim menemukan kerentanan, missing patch, dan kesalahan konfigurasi. Ada juga layanan Nessus Professional yang menyediakan pemeriksaan konfigurasi dan laporan yang dapat disesuaikan.
Jika perusahaan Anda rutin memeriksa server, sistem, dan perangkat jaringan serta memiliki tim IT atau security untuk memvalidasi hasil scan, maka Nessus bisa jadi solusi yang tepat.
2. OpenVAS Community Edition
OpenVAS mulai dikembangkan pada 2005 dan kini menjadi bagian dari Greenbone Community Edition. Tool ini digunakan untuk memindai kerentanan pada sistem dan infrastruktur jaringan.
Sebagai solusi open source, OpenVAS memberi perusahaan kontrol lebih besar karena scanner dapat dijalankan pada infrastruktur sendiri. Namun, tim Anda juga perlu mengelola beberapa hal berikut:
- Instalasi dan konfigurasi sistem
- Pembaruan vulnerability feed
- Jadwal dan pengaturan scan
- Pemeliharaan komponen scanner
- Validasi hasil pemindaian
Karena kebutuhan pengelolaannya cukup teknis, OpenVAS lebih sesuai untuk perusahaan yang memiliki tim internal dan ingin mengelola vulnerability scanner secara mandiri.
Baca Juga : 8 Antivirus Android Terbaik 2026, Kaspersky, ESET, atau AVG?
3. Qualys VMDR
Qualys VMDR atau Vulnerability Management, Detection and Response lebih cocok untuk perusahaan dengan banyak aset yang tersebar di berbagai lingkungan.
Platform ini tidak hanya melakukan scanning, tetapi mencakup beberapa proses vulnerability management, seperti:
- Penemuan dan inventarisasi aset
- Identifikasi kerentanan dan misconfiguration
- Prioritas risiko melalui Qualys TruRisk
- Pemantauan proses remediasi
- Integrasi dengan workflow ITSM
Qualys juga mendukung beberapa metode pengumpulan data, termasuk Cloud Agents, scanner, dan passive sensor.
Cakupan tersebut membuat VMDR relevan untuk organisasi yang membutuhkan visibilitas terpusat dan vulnerability management berkelanjutan. Namun, jangan lupa untuk cek paket yang dipilih karena ada beberapa fitur seperti deployment patch yang membutuhkan subscription tambahan.
4. Rapid7 InsightVM
Rapid7 InsightVM membantu perusahaan menghubungkan vulnerability scanning dengan prioritas risiko dan pekerjaan remediasi.
Platform ini menggunakan Security Console untuk mengelola aset, scan, dan laporan. Sementara itu, Scan Engine menjalankan pemeriksaan terhadap aset yang ditentukan.
Fungsi yang dapat membantu tim IT antara lain:
- Risk prioritization untuk menentukan temuan yang lebih mendesak
- Remediation Projects untuk mengelola pekerjaan perbaikan
- Dashboard dan laporan untuk memantau kondisi kerentanan
- Validation scan untuk memastikan celah telah diperbaiki
InsightVM cocok untuk organisasi dengan banyak aset dan beberapa tim IT atau security yang membutuhkan workflow terstruktur dari scanning hingga remediasi.
5. ManageEngine Vulnerability Manager Plus
ManageEngine Vulnerability Manager Plus cocok untuk perusahaan yang banyak mengelola laptop, desktop, dan server serta ingin menghubungkan identifikasi kerentanan dengan proses perbaikannya.
Platform ini dapat membantu menemukan:
- Kerentanan perangkat lunak
- Missing patch
- Kesalahan konfigurasi
- Software berisiko atau sudah end-of-life
- Masalah pada web server
- Kerentanan firmware perangkat jaringan
Salah satu kelebihan vulnerability assessment tools ini adalah fungsi patch management. Tim IT dapat mendeteksi patch yang belum terpasang sekaligus mengelola deployment pada Windows, macOS, Linux, dan berbagai aplikasi pihak ketiga yang didukung.
6. Burp Suite
Burp Suite dari PortSwigger fokus pada pengujian keamanan aplikasi web dan API. Tool ini banyak digunakan oleh security analyst, penetration tester, dan tim AppSec.
Salah satu komponennya, Burp Proxy, memungkinkan penguji untuk mengamati dan memodifikasi komunikasi antara browser dengan aplikasi. Adapun untuk pemindaian otomatis, Burp Scanner menjalankan proses crawling dan auditing terhadap aplikasi.
Burp Scanner juga mendukung pengujian berbagai jenis API, termasuk REST, SOAP, dan GraphQL. Fitur ini tersedia pada Burp Suite Professional dan Burp Suite DAST.
Burp Suite lebih cocok untuk perusahaan yang memiliki aplikasi web atau API dan membutuhkan pengujian keamanan secara mendalam. Sebagai tools yang fokus di aplikasi, perusahaan tetap membutuhkan tool lain jika ingin memeriksa kerentanan pada server, endpoint, atau perangkat jaringan.
7. ZAP
ZAP merupakan tool keamanan aplikasi web open source yang cocok untuk perusahaan dengan tim developer atau security internal yang ingin memasukkan pemeriksaan keamanan ke workflow pengembangan.
Beberapa kemampuan utamanya meliputi:
- Passive scanning untuk menganalisis request dan response
- Active scanning untuk menguji potensi kerentanan
- Automation Framework untuk otomatisasi pengujian
- Client Spider untuk menjelajahi aplikasi web modern
Namun Automated scanning tentu tidak dapat menemukan semua jenis kelemahan, terutama pada celah yang bergantung pada logika bisnis. Untuk celah logika bisnis seperti broken access, Anda butuh pengujian tambahan secara manual.
8. Invicti
Invicti merupakan platform DAST (Dynamic Application Security Testing) yang dirancang untuk menguji website, aplikasi web, dan API secara otomatis. Tool ini cocok jika perusahaan Anda memiliki banyak aplikasi dan butuh proses scanning berulang dalam skala besar.
Salah satu fitur Invicti adalah Proof-Based Scanning. Mekanisme ini mencoba memverifikasi kerentanan tertentu setelah ditemukan sehingga dapat membantu mengurangi waktu yang digunakan tim untuk meninjau false positive.
Selain fitur Proof-Based Scanning, Invicti juga mendukung:
- Crawling aplikasi web modern
- Pengujian API
- Integrasi CI/CD
- Pengelolaan hasil scan untuk banyak aplikasi
Namun, kualitas hasil scan tetap dipengaruhi oleh konfigurasi, autentikasi, dan bagian aplikasi yang berhasil dijangkau scanner.
9. Nuclei
Nuclei merupakan open source vulnerability scanner dari ProjectDiscovery yang menggunakan pendekatan berbasis template.
Tool ini lebih cocok untuk perusahaan yang memiliki security engineer, pentester, atau tim teknis yang butuh pemeriksaan cepat dan dapat dikustomisasi.
Template Nuclei sendiri bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti:
- Pemeriksaan CVE tertentu
- Deteksi misconfiguration
- Identifikasi exposed service
- Pemeriksaan khusus untuk kebutuhan internal
- Otomatisasi scanning dalam CI/CD atau workflow security
Meski Nuclei cukup fleksibel, namun hal ini juga menjadi kelemahan. Cakupan hasil sangat bergantung pada template yang digunakan, sehingga satu kali scan tidak otomatis setara dengan vulnerability assessment menyeluruh.
10. Trivy
Trivy merupakan open source security scanner yang banyak digunakan oleh tim DevSecOps dan perusahaan dengan lingkungan container atau cloud-native.
Cakupannya meliputi repository, filesystem, container image, software dependency, Kubernetes, hingga Infrastructure as Code.
Trivy dapat membantu menemukan beberapa jenis masalah, seperti:
- Kerentanan pada package dan dependency
- Misconfiguration
- Secret yang tersimpan dalam source
- Risiko lisensi perangkat lunak
Tool ini dapat dimasukkan ke CI/CD agar potensi masalah ditemukan sejak tahap pengembangan.
Trivy lebih cocok untuk perusahaan yang membangun aplikasi berbasis container, Kubernetes, atau cloud-native. Fungsinya tidak menggantikan DAST atau network vulnerability scanner, sehingga biasanya digunakan sebagai bagian dari proses vulnerability assessment yang lebih luas.
11. Amazon Inspector
Amazon Inspector paling relevan untuk perusahaan yang menjalankan sebagian besar workload di AWS. Layanan ini terintegrasi dengan ekosistem AWS dan dapat melakukan pemeriksaan terhadap resource yang didukung, termasuk:
- Amazon EC2
- Container image di Amazon ECR
- AWS Lambda
- Kode dan dependency pada skenario Code Security yang didukung
Amazon Inspector dapat membantu menemukan kerentanan perangkat lunak dan unintended network exposure. Resource juga dapat dinilai ulang ketika terjadi perubahan, seperti pembaruan package atau munculnya CVE baru.
Karena cakupannya berpusat pada ekosistem AWS, maka Amazon Inspector lebih cocok untuk organisasi dengan infrastruktur cloud AWS.
Pilih Vulnerability Assessment Tools Sesuai Kebutuhan Perusahaan
Dari 11 tools di atas, terlihat bahwa masing-masing memiliki fokus yang berbeda. Perbedaan tersebut membuat perusahaan perlu menyesuaikan pilihan tool dengan kondisi lingkungan TI yang digunakan. Pastikan Anda sudah mengecek beberapa hal ini:
- Jenis aset yang ingin diperiksa, seperti jaringan, endpoint, aplikasi web, container, atau cloud
- Kemampuan tim dalam mengelola tool dan memvalidasi hasil pemindaian
- Kebutuhan integrasi dengan workflow IT, ticketing, atau CI/CD
- Proses remediasi setelah kerentanan ditemukan
- Kebutuhan menggunakan satu tool atau kombinasi beberapa tool untuk mendapatkan cakupan yang lebih luas.
Tools yang tepat dapat membantu proses vulnerability assessment menjadi lebih terarah. Namun, hasil scanner tetap perlu dianalisis dan diprioritaskan agar tim juga memahami risiko mana yang perlu ditangani lebih dahulu.
Digital Solusi Grup (DSG) menyediakan layanan Vulnerability Assessment untuk membantu perusahaan mengidentifikasi kerentanan pada sistem, jaringan, aplikasi, maupun aset TI lainnya. Selain mengecek hasil scanner, tim DSG juga akan memvalidasi temuan dan mementukan prioritas berdasarkan tingkat risiko.
Pendekatan ini dapat membantu perusahaan memahami kerentanan yang perlu segera ditangani serta langkah perbaikan yang dapat dilakukan oleh tim internal.
Hubungi tim kami dan jadwalkan konsultasi gratis untuk menentukan ruang lingkup, metode pengujian, dan pendekatan VA yang paling sesuai dengan lingkungan TI perusahaan.
FAQ Seputar Vulnerability Assessment Tools
Apakah vulnerability assessment tools gratis bisa digunakan perusahaan?
Bisa, tetapi biasanya membutuhkan pengelolaan dan validasi lebih lanjut dari tim internal. Kebutuhan enterprise juga dapat memerlukan fitur, dukungan, atau cakupan tambahan.
Apakah menggunakan vulnerability scanner saja sudah cukup?
Belum tentu. Hasil scanner tetap perlu divalidasi, diprioritaskan, dan diterjemahkan menjadi langkah perbaikan yang sesuai dengan risiko perusahaan.
Seberapa sering perusahaan perlu melakukan vulnerability assessment?
Frekuensinya menyesuaikan tingkat risiko dan perubahan sistem. VA juga sebaiknya dilakukan setelah perubahan besar pada aplikasi, jaringan, atau infrastruktur.
Kapan perusahaan sebaiknya menggunakan jasa vulnerability assessment?
Jasa VA dapat dipertimbangkan ketika perusahaan membutuhkan pengujian yang lebih terstruktur, validasi temuan, serta rekomendasi perbaikan. Digital Solusi Grup menyediakan layanan Vulnerability Assessment untuk membantu proses tersebut.


















