14 Cara Mengamankan Jaringan Komputer di Perusahaan

Cara Mengamankan Jaringan

Mengetahui cara mengamankan jaringan komputer di perusahaan bukan lagi sekadar opsi, tetapi kebutuhan utama untuk menjaga kelancaran operasional. Setiap hari, ancaman data terus berkembang, sementara perusahaan dituntut bekerja lebih cepat dan lebih terkoneksi.

Oleh karena itu, perlu memahami strategi yang tepat agar sistem tetap aman tanpa menghambat produktivitas. Anda akan mempelajari langkah-langkah, mulai dari penguatan firewall, pengaturan access control, hingga kebiasaan digital yang wajib diterapkan seluruh karyawan. 

Prinsip Keamanan Jaringan

Prinsip Keamanan Jaringan

Menjaga keamanan jaringan komputer membutuhkan pendekatan menyeluruh. Dengan memahami prinsip-prinsip keamanan ini, perusahaan dapat melindungi aset digital, data, dan infrastruktur dari berbagai ancaman. Berikut adalah enam prinsip utama yang wajib diterapkan:

1. Keamanan Fisik 

Keamanan fisik memastikan perangkat keras dan infrastruktur jaringan terlindungi dari akses yang tidak sah atau kerusakan. Perusahaan harus membatasi siapa saja yang bisa menyentuh perangkat penting. Langkah konkret meliputi:

  • Mengunci ruangan server dengan akses terbatas.
  • Membatasi akses fisik ke perangkat jaringan seperti switch, router, dan modem.
  • Mengamankan kabel jaringan dan perangkat tambahan agar tidak mudah dicabut atau dirusak.

2. Keamanan Jaringan

Keamanan jaringan fokus melindungi sistem dari serangan eksternal dan internal. Langkah-langkahnya termasuk:

  • Menggunakan firewall untuk memantau lalu lintas jaringan dan memblokir akses yang tidak sah.
  • Menerapkan VPN (Virtual Private Network) untuk mengamankan koneksi jarak jauh.
  • Memasang IDS/IPS (Intrusion Detection System/Intrusion Prevention System) untuk mendeteksi dan mencegah ancaman.
  • Menggunakan Next Generation Firewall (NGFW) yang dapat mendeteksi ancaman, memeriksa lalu lintas SSL/TLS, dan memberikan kontrol akses lebih granular.

3. Keamanan Perangkat 

Perangkat yang terhubung ke jaringan bisa menjadi pintu masuk malware atau ransomware jika tidak terlindungi. Strategi yang dapat diterapkan meliputi:

  • Menggunakan sandi yang kuat dan unik pada setiap perangkat.
  • Melakukan pembaruan perangkat lunak (patching) secara rutin untuk menutup kerentanan.
  • Memasang perangkat lunak keamanan seperti anti-virus.
  • Mengimplementasikan solusi Endpoint Protection dengan Endpoint Detection and Response (EDR) untuk mendeteksi aktivitas mencurigakan.

Baca Juga : 11 Macam-Macam Ancaman Keamanan Jaringan yang Wajib Diwaspadai

4. Manajemen Akses 

Manajemen akses memastikan hanya pengguna yang sah yang dapat mengakses data dan sistem sesuai tanggung jawab mereka. Langkah-langkahnya:

  • Menerapkan prinsip least privilege dengan memberikan akses seminimal mungkin.
  • Membuat dan mengaudit sistem Role-Based Access Control (RBAC) secara berkala.
  • Menggunakan Autentikasi Multi-Faktor (MFA) atau autentikasi dua faktor untuk menambah lapisan keamanan.

5. Pelatihan dan Kesadaran 

Karyawan yang sadar akan praktik keamanan menjadi garis pertahanan pertama perusahaan. Langkah edukasi meliputi:

  • Memberikan pelatihan rutin tentang ancaman seperti phishing dan social engineering.
  • Mengedukasi pentingnya penggunaan password unik dan aman.
  • Menekankan risiko menyimpan data di perangkat pribadi.
  • Mengajarkan cara melaporkan insiden keamanan.
  • Mengingatkan untuk tidak membuka tautan atau link asing dari e-mail yang mencurigakan.

6. Pemantauan dan Deteksi

Pemantauan aktif memungkinkan perusahaan mendeteksi ancaman lebih awal. Teknologi yang digunakan meliputi:

  • Memanfaatkan SIEM (Security Information and Event Management) untuk analisis log.
  • Melakukan log monitoring untuk aktivitas mencurigakan.
  • Menggunakan alat berbasis NDR (Network Detection and Response), seperti Sangfor Athena NDR, untuk memantau traffic secara real-time.

Cara Mengamankan Jaringan Komputer

Mengamankan jaringan komputer di perusahaan membutuhkan langkah-langkah yang tepat agar sistem tetap terlindungi dari ancaman siber yang terus berkembang. 14 strategi efektif yang bisa diterapkan untuk memastikan jaringan tetap kuat sekaligus bebas dari celah keamanan yang dapat dieksploitasi.

1. Menggunakan Firewall

Firewall bekerja sebagai lapisan pertahanan pertama di jaringan komputer perusahaan. Teknologi ini memantau dan mengendalikan traffic jaringan, serta memblokir akses yang tidak sah. 

Dengan firewall, Anda dapat menyaring data masuk dan keluar sesuai aturan yang telah ditetapkan, melindungi jaringan internal, mencegah malware, dan menjaga sistem dari akses yang tidak diizinkan.

Seiring ancaman siber yang semakin kompleks, firewall konvensional tidak lagi cukup. Perusahaan memerlukan Next Generation Firewall (NGFW) yang menawarkan fitur lebih canggih, seperti:

  • Deteksi ancaman dan perilaku mencurigakan.
  • Deteksi berbasis aplikasi.
  • Kontrol akses berdasarkan pengguna.
  • Pemantauan traffic terenkripsi dan inspeksi SSL/TLS.
  • Integrasi dengan sistem keamanan lain untuk proteksi menyeluruh.

2. Memperbarui Perangkat Lunak secara Teratur

Memperbarui perangkat lunak secara rutin, atau patching, merupakan langkah penting untuk menutup celah keamanan. Banyak serangan berhasil karena penyerang memanfaatkan vulnerability dari sistem yang belum diperbarui. 

Dengan memperbarui sistem operasi (OS) dan perangkat lunak segera setelah ada notifikasi, Anda mencegah eksploitasi dan serangan ransomware. Praktik Pembaruan yang Efektif:

  • Perbarui semua perangkat lunak dan sistem operasi dengan patch terbaru.
  • Jadwalkan pembaruan otomatis saat malam hari atau ketika aktivitas pengguna minimal.
  • Jangan lupakan perangkat keras; perbarui juga firmware untuk menutup kerentanan yang bisa dimanfaatkan penyerang.

Rutin memperbarui sistem membantu menjaga prinsip keamanan perangkat, memastikan semua perangkat yang terhubung ke jaringan tetap terlindungi. Jika keamanan jaringan adalah sebuah kastil, Firewall adalah benteng dan gerbang utama yang menyaring siapa yang boleh masuk dan keluar. 

Sementara itu, Memperbarui Perangkat Lunak secara Teratur adalah memperbaiki retakan dan celah kecil di dinding kastil. Jika patching diabaikan, musuh (hacker) bisa menyelinap meski benteng utama sudah kuat.

3. Mengenkripsi Data

Dalam dunia cyber security, enkripsi berperan sebagai kunci utama untuk menjaga kerahasiaan data sensitif. Dengan mengenkripsi data, hanya pihak yang memiliki kunci dekripsi yang dapat membaca informasi yang dikirim.

Anda dapat melindungi data dengan cara berikut:

  • Melindungi Kerahasiaan: Enkripsi memastikan informasi yang dikirim atau disimpan (in-transit dan at-rest) tidak mudah dibaca oleh penyusup.
  • Protokol Enkripsi: Gunakan protokol seperti SSL (Secure Sockets Layer) atau TLS (Transport Layer Security) untuk menjaga keamanan data saat dikirim melalui jaringan.
  • Integrasi dengan Teknologi Lain: Terapkan enkripsi melalui VPN (Virtual Private Network) untuk melindungi traffic website. Selain itu, cloud computing canggih juga menyediakan fitur enkripsi data otomatis.
  • Lapisan Tambahan: Meski enkripsi sudah kuat, tetap aktifkan password atau kode verifikasi untuk menambah keamanan jaringan komputer.

4. Menggunakan VPN 

VPN (Virtual Private Network) melindungi jaringan komputer dari ancaman eksternal. Dengan VPN, koneksi perangkat ke jaringan menjadi aman dan terlindungi dari akses tidak sah.

Selain itu, VPN mengenkripsi lalu lintas data, sehingga informasi yang bergerak di jaringan tetap aman. VPN juga mendukung penerapan enkripsi data pada traffic website yang sedang berjalan, membuat pertukaran informasi lebih aman.

5. Mengelola Akses Pengguna

Mengatur akses pengguna dengan ketat sangat penting. Memberikan akses tanpa batas sering menjadi kesalahan perusahaan, sehingga pengelolaan akses harus mengikuti prinsip Manajemen Akses. Langkah yang dapat diterapkan meliputi:

  • Prinsip Least Privilege: Berikan akses seminimal mungkin sesuai kebutuhan pengguna untuk menjalankan tugasnya.
  • Akses Berdasarkan Tugas: Batasi akses berdasarkan pekerjaan dan jabatan. Misalnya, karyawan penjualan tidak perlu mengakses seluruh data keuangan, dan klien hanya mendapat akses pada file proyek mereka.
  • Manajemen Risiko: Pengaturan akses yang tepat mengurangi risiko penyalahgunaan internal dan mempersempit peluang kebocoran akun.
  • Audit dan Kontrol: Terapkan Role-Based Access Control (RBAC) dan lakukan audit berkala untuk memastikan relevansi akses pengguna.
  • Kata Sandi: Gunakan password kuat dan atur kebijakan penggantian rutin.

6. Menerapkan Kebijakan Keamanan

Perusahaan harus menerapkan kebijakan keamanan untuk memastikan semua pengguna dan sistem mematuhi standar keamanan yang ditetapkan. Kebijakan ini berfungsi sebagai panduan perilaku aman dalam menggunakan aset digital perusahaan.

Beberapa aspek penting yang harus dicakup meliputi:

  • Kebijakan Penggunaan Internet: Tentukan apa yang boleh dan tidak boleh diakses karyawan saat terhubung ke jaringan.
  • Kebijakan Kata Sandi: Tetapkan persyaratan kompleksitas, panjang, dan frekuensi penggantian kata sandi.
  • Kebijakan Penggunaan Perangkat Mobile: Atur penggunaan perangkat seluler di lingkungan kerja, termasuk kebijakan BYOD (Bring Your Own Device).

Perusahaan juga harus mengadakan pelatihan dan kesadaran keamanan secara berkala agar seluruh pengguna memahami dan melaksanakan kebijakan ini dengan konsisten.

7. Melakukan Backup Data secara Berkala 

Perusahaan perlu melakukan backup data secara rutin untuk meminimalkan risiko kehilangan data akibat serangan atau kegagalan sistem. Backup membantu perusahaan memulihkan data dengan cepat dan menjaga kelangsungan operasional. Manfaat utama meliputi:

  1. Pemulihan Data: Data yang hilang atau rusak dapat segera dipulihkan, misalnya akibat serangan ransomware atau kerusakan sistem.
  2. Antisipasi Serangan: Backup memungkinkan perusahaan merespons serangan cyber atau kegagalan sistem dengan cepat.
  3. Penyimpanan Aman: Data penting harus disimpan secara terpisah dan aman.

Baca Juga : Apa itu Manajemen Data? Pentingnya, Fungsi, dan Tantangannya

8. Menggunakan Perangkat Lunak Keamanan yang Andal 

Perusahaan harus memasang perangkat lunak keamanan berkualitas untuk melindungi sistem dari berbagai ancaman siber.

Jenis perangkat lunak yang wajib digunakan:

  • Anti-Virus, Anti-Spyware, dan Anti-Malware: Menahan serangan virus, ransomware, spyware, worm, dan trojan horse.
  • Endpoint Protection: Solusi modern ini dapat mendeteksi aktivitas mencurigakan, mengkarantina file berbahaya, dan menyusun laporan insiden otomatis.
  • Perlindungan Terintegrasi: Solusi Cyber Protection menggabungkan cloud backup dan anti-virus dalam satu control panel, melindungi data dari berbagai serangan.

Perangkat lunak ini harus diperbarui secara rutin dan sistem perlu dipindai secara berkala agar risiko serangan dapat diminimalkan.

9. Memantau Aktivitas Jaringan

Memantau aktivitas jaringan secara real-time menjadi langkah penting untuk mendeteksi serangan lebih awal. Dengan pengawasan aktif, perusahaan dapat segera mengenali perilaku mencurigakan sebelum kerusakan terjadi. Langkah praktis yang dapat dilakukan:

  1. Deteksi Dini: Pemantauan membantu menemukan serangan atau aktivitas abnormal. Semakin cepat deteksi dilakukan, semakin kecil dampak kerusakannya.
  2. Alat Pemantauan: Gunakan alat seperti SIEM (Security Information and Event Management) dan log monitoring untuk mencatat semua aktivitas jaringan.
  3. Teknologi Canggih: Terapkan tools seperti NDR (Network Detection and Response) yang mampu memantau seluruh jaringan dan mendeteksi pola anomali secara otomatis.
  4. Tindakan Cepat: Dengan pemantauan real-time, Anda dapat segera menindaklanjuti traffic mencurigakan, misalnya data yang dikirim ke IP asing, aktivitas tidak biasa dari akun pengguna, atau file yang dienkripsi massal sebagai indikasi ransomware.

10. Menggunakan Keamanan Wireless yang Kuat 

Jika jaringan perusahaan menggunakan koneksi wireless, penting untuk memastikan keamanan dengan mekanisme proteksi yang kuat agar data tetap aman dari pihak tidak bertanggung jawab. Langkah yang dapat dilakukan adalah: 

  1. Enkripsi Kuat: Amankan jaringan wireless dengan enkripsi kuat, seperti WPA2 (Wi-Fi Protected Access 2).
  2. Pembatasan Akses: Terapkan filter MAC address untuk membatasi siapa saja yang bisa terhubung ke jaringan.
  3. Menyembunyikan SSID: Sembunyikan SSID (Service Set Identifier) jaringan sebagai lapisan keamanan tambahan agar jaringan tidak mudah ditemukan.

11. Melakukan Pengujian Penetrasi

Pengujian penetrasi (Penetration Testing atau Pentest) adalah proses aktif untuk mengidentifikasi dan menutup celah keamanan dalam jaringan dengan mencoba menembus pertahanan yang ada. Tujuan dan manfaatnya:

  • Mengidentifikasi Kerentanan: Pentest membantu menemukan kelemahan sebelum penyerang eksternal mengeksploitasinya.
  • Proaktif: Lakukan pengujian secara rutin untuk memastikan setiap celah keamanan segera ditangani.

Pengujian penetrasi memastikan firewall, kontrol akses, dan strategi pertahanan lainnya bekerja efektif saat menghadapi serangan nyata.

12. Mengelola Pembaruan Perangkat Keras

​​Keamanan jaringan tidak hanya bergantung pada software, tetapi juga pada perangkat keras. Perusahaan harus memperbarui perangkat keras dengan firmware terbaru secara rutin untuk menutup celah yang bisa dimanfaatkan oleh penyerang. Perangkat keras yang usang sama rentannya seperti software yang tidak diperbarui. 

Dengan melakukan pembaruan, Anda secara aktif menutup potensi kerentanan (vulnerability) dan mencegah hacker mengeksploitasi sistem. Pastikan setiap komponen jaringan, mulai dari router, switch, hingga server, selalu menjalankan versi firmware terbaru agar keamanan tetap optimal.

13. Menggunakan Solusi Keamanan Jaringan Canggih

Perusahaan dapat memperkuat jaringan dengan solusi keamanan canggih untuk memberikan perlindungan menyeluruh. Contohnya adalah Next Generation Firewall (NGFW) yang menggabungkan fungsi firewall dengan teknologi mutakhir. NGFW mampu memeriksa traffic lebih mendalam, mendeteksi ancaman, serta memberikan kontrol akses yang lebih granular.

14. Lakukan Audit Keamanan Jaringan 

Audit keamanan jaringan adalah langkah proaktif untuk memastikan sistem keamanan berfungsi optimal. Tujuan utamanya adalah mengidentifikasi kelemahan atau risiko yang bisa membahayakan jaringan. Dengan audit, perusahaan dapat menilai seberapa efektif prosedur dan perlindungan yang diterapkan.

Proses audit dilakukan dengan langkah berikut:

  1. Mempekerjakan tim IT internal atau bekerja sama dengan pihak ketiga untuk evaluasi menyeluruh.
  2. Memeriksa seluruh komponen jaringan, termasuk firewall, perangkat keras, prosedur keamanan, dan aset digital lainnya.
  3. Menyusun laporan temuan dan mengambil tindakan perbaikan jika ditemukan celah atau risiko.

Dengan rutin melakukan audit, perusahaan mengidentifikasi kelemahan lebih awal dan mengurangi kemungkinan ancaman berhasil mengeksploitasi jaringan. Ini memastikan keamanan jaringan selalu proaktif dan terkendali.

Bangun Keamanan Jaringan yang Proaktif!

Melindungi perusahaan dari serangan siber membutuhkan pendekatan menyeluruh, mulai dari penguatan firewall, pembaruan perangkat keras, hingga audit keamanan rutin. Dengan mengamankan jaringan komputer secara konsisten, setiap celah potensi serangan dapat ditutup sebelum dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab. 

Penerapan solusi keamanan canggih, manajemen akses yang tepat, serta pemantauan aktif membantu memastikan data dan aset perusahaan tetap aman. Audit berkala juga efektif untuk meningkatkan perlindungan. Ikuti langkah-langkah ini agar tidak khawatir terhadap ancaman digital yang terus berkembang.

Isi form berikut! Tim kami segera menghubungi Anda.