Apa Itu TTIS? Fungsi, Struktur Tim, dan Tahapan Sesuai BSSN

TTIS (Tim Tanggap Insiden Siber)

Daftar Isi

Bagaimana organisasi Anda merespons ketika terjadi serangan ransomware, kebocoran data, atau gangguan layanan akibat insiden siber? Di situasi seperti ini, kecepatan dan ketepatan penanganan dapat menentukan besarnya dampak yang harus ditanggung organisasi.

Untuk memastikan respons yang terstruktur dan efektif, organisasi memerlukan Tim Tanggap Insiden Siber (TTIS) yang mampu mengoordinasikan penanganan insiden secara cepat dan tepat. Kehadiran tim ini akan meminimalkan risiko operasional, data, dan reputasi organisasi. 

Bagaimana cara  membentuk tim tanggap di perusahaan? 

Apa Itu TTIS?

Tim Tanggap Insiden Siber (TTIS) adalah sekelompok personel yang bertanggung jawab menangani insiden siber dalam ruang lingkup organisasi yang menjadi tanggung jawabnya. Pembentukan dan pengelolaan TTIS mengacu pada Peraturan BSSN Nomor 1 Tahun 2024 tentang Pengelolaan Insiden Siber. 

Secara umum, tim ini memiliki peran sebagai koordinator penanganan insiden keamanan siber di dalam organisasi. Saat ada insiden, tim bertugas menerima laporan, melakukan analisis awal, menentukan prioritas penanganan, mengoordinasikan respons, serta membantu proses pemulihan agar layanan dan operasional bisa berjalan normal kembali. 

Lalu apa fungsi dari tim ini?

Berdasarkan Panduan yang diterbitkan BSSN, tim ini memiliki beberapa fungsi dalam pengelolaan insiden siber, yaitu:

  • Memberikan peringatan dan informasi terkait keamanan siber.
  • Menyusun panduan teknis untuk penanganan insiden siber.
  • Mencatat dan mengelola laporan atau aduan insiden yang diterima.
  • Melakukan triase (triage) untuk menentukan prioritas penanganan insiden.
  • Mengoordinasikan penanganan insiden dengan pihak yang berkepentingan.
  • Menjalankan fungsi lain yang diperlukan sesuai kebutuhan organisasi.

Selain istilah TTIS, Anda juga mungkin menjumpai istilah Computer Security Incident Response Team (CSIRT). Secara umum, kedua istilah tersebut mengacu pada tim yang bertugas menangani insiden siber di lingkungan organisasi.

Baca Juga : Keamanan Siber Perbankan: Pelajaran dari Kasus Bank Jambi

Struktur Tim Tanggap Insiden Siber (TTIS)

Berdasarkan pedoman BSSN, struktur CSIRT paling sedikit terdiri atas ketua, anggota, dan narahubung. Namun, Anda bisa menyesuaikan struktur tim sesuai kebutuhan operasional, ukuran organisasi, hingga tingkat risiko yang dihadapi. Berikut tiga struktur yang dibutuhkan:

1. Ketua atau Koordinator

Ketua TTIS bertanggung jawab sebagai koordinator seluruh aktivitas tim dan memastikan proses penanganan insiden berjalan sesuai prosedur. Selain bersifat administratif, koordinator CSIRT juga akan arah penanganan saat terjadi insiden yang berdampak pada operasional organisasi.

Misalnya saat ada kebocoran data atau gangguan layanan, ketua TTIS perlu menetapkan prioritas penanganan, mengoordinasikan sumber daya yang tersedia, serta memastikan setiap pihak yang terlibat memahami tugas dan tanggung jawabnya.

2. Anggota

Anggota menjalankan fungsi teknis dalam pengelolaan insiden siber. Bergantung pada kebutuhan organisasi, anggota dapat dibagi ke dalam beberapa peran dengan fokus yang berbeda.

a. Incident Handler

Incident Handler merupakan personel yang berada di garis depan saat insiden terdeteksi. Tugasnya adalah menerima laporan insiden, melakukan analisis awal untuk menentukan tingkat keparahan, ruang lingkup dampak, dan langkah mitigasi yang perlu segera dilakukan.

Peran ini sangat krusial karena biasanya keputusan di tahap awal sangat memengaruhi besarnya dampak insiden terhadap organisasi.

b. Security Analyst

Setelah insiden berhasil diidentifikasi, Security Analyst  perlu memahami apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana ancaman tersebut dapat muncul. 

Selain menganalisis indikator serangan dan dampak insiden, Security Analyst juga membantu menemukan root cause agar organisasi bisa melakukan perbaikan yang tepat. Bukan hanya  sekadar memulihkan sistem yang terdampak.

c. Digital Forensics (Opsional)

Jika organisasi Anda mengelola banyak data pribadi atau layanan kritis, seperti sistem perbankan, layanan kesehatan, platform e-commerce, maupun layanan publik berbasis digital, kemampuan digital forensics dapat menjadi nilai tambah.

Digital Forensics akan mengumpulkan dan menganalisis bukti digital untuk mengetahui kronologi serangan, teknik yang digunakan pelaku, serta sistem yang terdampak.

Hasil investigasi tersebut akan digunakan sebagai dasar perbaikan keamanan, kebutuhan audit, maupun pemenuhan kewajiban pelaporan kepada pihak terkait.

3. Narahubung (Liaison Officer)

Selama penanganan insiden siber tentu ada banyak pihak yang terlibat baik internal maupun eksternal. Oleh karena itu, BSSN memberi pedoman agar ada narahubung yang bertugas menjaga kelancaran komunikasi selama proses penanganan berlangsung.

Peran narahubung adalah berkoordinasi dengan manajemen, vendor teknologi, regulator, maupun tim keamanan siber lainnya. Dengan koordinasi yang jelas, maka jelas, informasi dapat disampaikan secara konsisten dan risiko miskomunikasi dapat diminimalkan.

Efektivitas TTIS tidak bergantung pada ukuran tim, melainkan pada kejelasan peran dan tanggung jawab setiap anggotanya. Selama fungsi koordinasi, penanganan insiden, dan komunikasi telah berjalan dengan baik, maka organisasi bisa membentuk CSIRT meski dengan sumber daya yang terbatas.

Baca Juga : Urgensi Keamanan Siber di Indonesia untuk Bisnis Anda

Cara Membentuk TTIS Sesuai Ketentuan BSSN

Pembentukan TTIS bukan hanya menunjuk beberapa personel untuk menangani insiden siber. Anda perlu memastikan tim yang dibentuk memiliki mandat, prosedur, dan kemampuan yang memadai untuk merespons insiden secara efektif. 

Berdasarkan Panduan Pembentukan Tim Tanggap Insiden Siber, proses pembentukan umumnya melalui beberapa tahapan berikut. 

1. Mengidentifikasi Kebutuhan dan Risiko Siber Organisasi

Kebutuhan tim tanggap insiden siber di setiap organisasi bisa berbeda, bergantung pada aset, layanan, dan profil ancaman yang dihadapi. Maka, pastikan untuk segera memetakan: 

  • Aset informasi yang perlu dilindungi.
  • Sistem yang mendukung operasional utama organisasi.
  • Ancaman siber yang paling mungkin terjadi.
  • Potensi dampak terhadap layanan dan bisnis.

Misalnya, Rumah Sakit perlu memprioritaskan perlindungan data pasien dan ketersediaan sistem rekam medis. Sementara itu, perusahaan e-commerce lebih concern pada perlindungan data pelanggan, transaksi, dan ketersediaan platform saat periode penjualan tinggi. 

Hasil analisis ini akan membantu organisasi menentukan ruang lingkup dan prioritas yang tepat.

2. Memperoleh Dukungan dan Komitmen Manajemen

Komitmen manajemen adalah fondasi penting bagi terbentuknya TTIS. Tanpa dukungan dari level pimpinan, tim akan kesulitan saat menjalankan fungsi respons insiden. Dukungan ini dapat berupa:

  • Penetapan kebijakan dan mandat TTIS.
  • Penyediaan anggaran yang memadai.
  • Penunjukan personel yang terlibat.
  • Pemberian kewenangan dalam proses penanganan insiden.

Sayangnya, banyak hal menjadi masalah saat tim keamanan menemukan insiden tetapi tidak memiliki kewenangan untuk segera melakukan isolasi sistem, menonaktifkan akun, atau mengambil langkah mitigasi lain. Kejelasan mandat akan membantu mempercepat respons saat terjadi insiden.

3. Menentukan Struktur dan Personel TTIS

Setelah memperoleh dukungan manajemen, saatnya membentuk struktur dan personal CSIRT. 

Tidak semua organisasi membutuhkan tim yang besar. Pada perusahaan berskala menengah, satu orang bisa menjalankan lebih dari satu fungsi. Namun pastikan bahwa setiap aktivitas koordinasi, investigasi, hingga komunikasi, memiliki PIC.

4. Menyusun Kebijakan dan SOP Penanganan Insiden

TTIS memerlukan prosedur yang terdokumentasi agar seluruh anggota tim memiliki acuan yang sama saat menangani insiden. Secara umum, SOP yang diperlukan mencakup:

  • Pelaporan dan pencatatan insiden.
  • Klasifikasi tingkat keparahan insiden.
  • Mekanisme eskalasi.
  • Analisis dan investigasi.
  • Mitigasi ancaman.
  • Pemulihan sistem dan layanan.
  • Dokumentasi pasca insiden.

5. Menyiapkan Kompetensi Tim

Kapabilitas personel menjadi faktor penting dalam keberhasilan TTIS. Oleh karena itu, organisasi perlu memastikan anggota tim memiliki kompetensi yang sesuai dengan perannya.

Upaya yang dapat dilakukan antara lain:

  • Pelatihan teknis keamanan siber.
  • Simulasi penanganan insiden.
  • Tabletop exercise.
  • Program peningkatan kompetensi secara berkala.

Insiden siber sering melibatkan lebih dari satu fungsi dalam organisasi. Selain tim keamanan, tim infrastruktur, manajemen, legal, dan komunikasi juga perlu memahami perannya masing-masing agar proses penanganan dapat berjalan lebih efektif.

6. Melakukan Simulasi dan Uji Kesiapan

Sebelum TTIS beroperasi secara penuh, organisasi disarankan melakukan simulasi untuk menguji kesiapan tim dan efektivitas prosedur yang telah disusun.

Melalui simulasi, organisasi bisa mengevaluasi:

  • Apakah SOP dapat dijalankan dengan baik.
  • Apakah setiap anggota memahami perannya.
  • Apakah mekanisme komunikasi dan eskalasi berjalan efektif.
  • Seberapa cepat tim merespons berbagai skenario ancaman.

Simulasi akan lebih efektif jika disesuaikan dengan risiko utama organisasi. Sebagai contoh, perusahaan manufaktur dapat menguji skenario gangguan sistem produksi, sementara institusi pendidikan bisa menguji bagaimana penanganan kebocoran data mahasiswa atau staf.

7. Melakukan Registrasi TTIS ke BSSN

Setelah TTIS terbentuk dan siap beroperasi, organisasi dapat mengajukan registrasi kepada National-CSIRT melalui mekanisme yang ditetapkan oleh BSSN.

Proses ini umumnya meliputi:

  • Persiapan dokumen persyaratan.
  • Pengajuan berkas registrasi.
  • Verifikasi dan validasi.
  • Penerbitan Surat Tanda Registrasi (STR).

Melalui registrasi ini, organisasi dapat menerima informasi terkait ancaman siber serta berkoordinasi dengan BSSN apabila terjadi insiden yang memerlukan penanganan lebih lanjut.

Baca Juga : Meeting dengan BSSN terkait pembentukan Tim CSIRT di PT Digital Solusi Grup

Tingkatkan Kesiapan Respons Insiden Siber dengan TTIS

Salah satu tantangan terbesar dalam pembentukan TTIS adalah menerjemahkan ketentuan dan pedoman yang ada ke dalam proses yang dapat diterapkan di lingkungan organisasi.

Mulai dari struktur tim, alur eskalasi, SOP, hingga kebutuhan kompetensi personel perlu disesuaikan dengan karakteristik bisnis, risiko, dan sumber daya yang dimiliki setiap organisasi.

Sebagai organisasi yang telah memiliki TTIS/CSIRT internal, DSG memahami bahwa membangun kemampuan respons insiden tidak berhenti pada penyusunan dokumen atau struktur organisasi. 

Tim yang dibentuk juga harus memiliki mekanisme koordinasi, prosedur respons, dan kesiapan operasional yang dapat dijalankan saat insiden benar-benar terjadi.

Oleh karena itu, DSG siap mendampingi organisasi Anda melalui: 

  • Assessment kebutuhan dan kesiapan organisasi.
  • Penyusunan struktur dan tata kelola TTIS.
  • Pengembangan kebijakan dan SOP penanganan insiden.
  • Pendampingan implementasi dan simulasi respons insiden.
  • Pendampingan proses registrasi TTIS ke BSSN.
  • Knowledge transfer untuk meningkatkan kapabilitas personel yang terlibat dalam pengelolaan insiden siber.

Ingin membangun atau mengoptimalkan TTIS di organisasi Anda? Hubungi tim DSG untuk mendiskusikan kebutuhan organisasi dan mendapatkan pendampingan yang sesuai.gkat kematangan keamanan siber yang ingin dicapai.

Isi form berikut! Tim kami segera menghubungi Anda.

Picture of Nadia Kamila

Nadia Kamila

Hi, I'm Nadia Lidzikri Kamila, an SEO Content Writer specializing in cybersecurity and digital security. Focused on creating well-researched content on malware, ransomware, antivirus solutions, and data protection to help users stay safe in the digital world.