Hacking tools adalah perangkat lunak yang digunakan untuk memetakan sistem, menganalisis jaringan, serta menemukan atau menguji kelemahan keamanan.
Ada alat untuk mengecek layanan pada server, memeriksa aplikasi web, atau mengevaluasi kekuatan password. Oleh karena itu, perlu memahami masing-masing tools dan memahami perbedaannya agar bisa menentukan perangkat yang relevan dengan kebutuhan pemeriksaan.
Berikut tujuh contoh alat untuk security check beserta fungsi, penggunaan yang sesuai, hingga batas kemampuannya.
7 Contoh Hacking Tools dan Fungsinya
Untuk mengetahui layanan yang terbuka pada server, Anda membutuhkan tool berbeda dari yang digunakan untuk menguji keamanan aplikasi web. Berikut tujuh contoh pentest tools beserta fungsi dan kebutuhan pengujian yang dapat didukungnya.
| Hacking Tools | Area yang Diperiksa | Kegunaan |
| Nmap | Host, port, dan layanan jaringan | Mengidentifikasi perangkat aktif, port terbuka, serta layanan yang berjalan. |
| Wireshark | Lalu lintas jaringan | Menganalisis komunikasi antarperangkat dan membantu menelusuri masalah jaringan. |
| Burp Suite | Aplikasi web | Memeriksa komunikasi aplikasi dan menguji pembatasan akses pengguna. |
| sqlmap | Interaksi aplikasi dengan database | Mendeteksi dan menguji celah SQL injection. |
| Nikto | Web server | Memeriksa potensi masalah konfigurasi, file yang terekspos, dan perangkat lunak server yang usang. |
| Metasploit Framework | Layanan atau sistem dengan dugaan kerentanan | Menguji apakah celah keamanan dapat dimanfaatkan serta memvalidasi dampaknya. |
| John the Ripper | Hash password | Menguji apakah password mudah ditebak melalui audit secara offline. |
1. Nmap untuk Memetakan Host, Port, dan Layanan
Nmap atau Network Mapper merupakan tool open source untuk eksplorasi jaringan dan audit keamanan. Pengguna dapat mengidentifikasi host yang aktif, port terbuka, serta layanan yang berjalan pada perangkat.
Informasi tersebut membantu administrator jaringan memahami layanan yang dapat diakses pada server perusahaan. Misalnya, pemeriksaan menemukan layanan administrasi yang ternyata masih terbuka dari jaringan luar.
Nmap banyak digunakan oleh administrator jaringan dan pentester yang perlu memetakan target sebelum pemeriksaan lebih lanjut. Hasilnya dapat menjadi dasar untuk meninjau apakah layanan yang tersedia memang dibutuhkan.
Namun, port terbuka tidak otomatis menunjukkan kerentanan karena web server membutuhkan port tertentu untuk melayani pengguna. Anda tetap perlu memeriksa konfigurasi, versi layanan, dan pembatasan akses sebelum menyimpulkan risikonya.
2. Wireshark untuk Menganalisis Lalu Lintas Jaringan
Wireshark merupakan network protocol analyzer yang digunakan untuk menangkap dan memeriksa paket jaringan. Tool ini membantu pengguna melihat komunikasi antar perangkat secara lebih terperinci.
Administrator jaringan dapat menggunakannya untuk menelusuri gangguan koneksi, memahami pertukaran data, atau memeriksa penggunaan protokol tertentu. Saat pentest berlangsung pengujian keamanan, analisis paket juga dapat membantu mengevaluasi komunikasi yang berpotensi mengekspos informasi sensitif.
Wireshark cocok untuk tim IT yang ingin menelusuri gangguan koneksi atau memeriksa komunikasi antarperangkat. Misalnya, saat aplikasi sulit terhubung ke server, tim dapat memeriksa apakah permintaan aplikasi mendapat respons atau mengalami kendala.
Informasi tersebut membantu mempersempit pencarian penyebab masalah. Namun, Wireshark tidak langsung memberikan diagnosis atau memperbaiki gangguan. Tim tetap perlu menganalisis hasilnya bersama kondisi jaringan dan aplikasi yang diperiksa.
Baca Juga : 11 Vulnerability Assessment Tools untuk Jaringan, Web & Cloud
3. Burp Suite untuk Menguji Keamanan Aplikasi Web
Burp Suite menyediakan berbagai perangkat untuk pengujian keamanan aplikasi web. Salah satu komponennya, Burp Proxy berfungsi untuk memeriksa lalu lintas HTTP antara browser dan aplikasi.
Burp Suite membantu pentester memeriksa komunikasi antara browser dan aplikasi web, termasuk data yang dikirim pengguna dan jawaban dari aplikasi. Dari sini, pentester dapat meninjau bagaimana aplikasi memproses permintaan dan apakah pembatasan aksesnya bekerja sesuai aturan.
Misalnya, pengguna seharusnya hanya dapat melihat dokumen miliknya. Dengan Burp Suite, pentester dapat menguji apakah aplikasi menolak permintaan untuk membuka dokumen pengguna lain. Pemeriksaan seperti ini membuat Burp Suite relevan bagi pentester web dan tim keamanan aplikasi.
Selain pengujian manual, Burp Suite menyediakan pemindaian otomatis melalui Burp Scanner pada edisi Professional dan DAST. Fitur tersebut membantu menemukan indikasi kerentanan, tetapi pemeriksaan hak akses tetap membutuhkan pemahaman tentang aturan aplikasi.
Pentester perlu mengetahui siapa yang berhak mengakses dokumen tertentu agar dapat menilai apakah hasil pengujian menunjukkan celah keamanan.
4. sqlmap untuk Menguji SQL Injection
sqlmap merupakan pentest tool open source yang mengotomatisasi deteksi dan pengujian SQL injection. Kerentanan ini terjadi ketika masukan pengguna dapat mengubah perintah yang dijalankan aplikasi pada database.
Dalam pengujian berizin, ethical hacker menggunakan sqlmap untuk memeriksa apakah kelemahan tersebut ada pada aplikasi. Misalnya, aplikasi memiliki fitur pencarian produk yang seharusnya hanya memproses kata kunci. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui apakah masukan pada kolom tersebut justru dapat memanipulasi perintah database dan membuka akses yang tidak semestinya.
Ethical hacker yang menggunakan sqlmap perlu memahami komunikasi aplikasi web dan cara kerja database. Pemahaman ini membantu mereka menentukan bagian yang diuji dan menafsirkan hasil pemeriksaan. Batas pengujian juga harus disepakati, terutama untuk tindakan yang dapat membaca atau mengubah data.
5. Nikto untuk Memeriksa Masalah pada Web Server
Nikto merupakan web server scanner open source yang membantu administrator sistem dan ethical hacker melakukan pemeriksaan awal pada web server. Beberapa hal yang diperiksa meliputi:
- Konfigurasi server yang berpotensi menimbulkan celah keamanan
- File atau informasi yang seharusnya tidak dapat diakses publik
- Versi perangkat lunak server yang sudah usang atau memiliki masalah keamanan yang dikenal
Misalnya, Nikto menemukan file cadangan yang dapat diakses melalui website. Tim perlu memeriksa apakah file tersebut berisi data sensitif dan apakah aksesnya perlu dibatasi. Jadi, hasil scan menjadi petunjuk untuk pemeriksaan lanjutan, bukan langsung dianggap sebagai kerentanan yang terbukti.
Pemeriksaan Nikto sendiri fokus pada web server. Untuk mengetahui apakah pengguna dapat membuka data milik orang lain atau menyalahgunakan proses transaksi, diperlukan pengujian aplikasi lebih lanjut.
Baca Juga : Cara Pentest Website untuk Menjaga Keamanan Bisnis Anda
6. Metasploit untuk Menguji Eksploitasi Kerentanan
Metasploit Framework merupakan perangkat pengujian yang menyediakan berbagai modul untuk menguji dan memanfaatkan kerentanan keamanan. Ethical hacker menggunakannya untuk memeriksa apakah dugaan celah dapat dieksploitasi dalam pengujian berizin.
Misalnya, pemeriksaan awal menemukan layanan server dengan versi yang memiliki kerentanan tertentu. Ethical hacker dapat menggunakan modul yang sesuai untuk menguji apakah celah tersebut juga bisa dimanfaatkan pada server yang diperiksa.
Hasilnya akan membantu user untuk membedakan dugaan berdasarkan informasi versi dengan kelemahan yang terbukti dapat dieksploitasi.
Namun, modul harus sesuai dengan versi dan konfigurasi layanan. Pengujian juga perlu mengikuti batas tindakan yang disepakati agar dampaknya terhadap sistem tetap terkendali.
Jika percobaan tidak berhasil, server belum tentu aman. Modul mungkin tidak sesuai dengan kondisi server, atau masih ada celah lain yang membutuhkan pemeriksaan berbeda.
7. John the Ripper untuk Mengaudit Kekuatan Password
John the Ripper merupakan tool open source untuk audit keamanan password dan pemulihan password. Tool ini mendukung berbagai sistem operasi serta format hash, dengan dukungan yang bergantung pada versi atau build.
Dalam audit berizin, user bisa mengevaluasi apakah password yang direpresentasikan oleh hash mudah ditebak. Pemeriksaan ini membantu tim menilai kelemahan pemilihan password.
John the Ripper relevan bagi pentester dan tim keamanan yang melakukan audit password secara offline menggunakan data yang diperoleh secara sah.
Hasil pengujian dipengaruhi algoritma hash, kekuatan password, sumber daya komputasi, dan waktu pemeriksaan. Password yang belum berhasil dipulihkan tidak otomatis dapat dinyatakan kuat.
Penanganan hash dan password hasil audit juga membutuhkan pengamanan karena keduanya merupakan informasi sensitif.
Beberapa hacking tools di atas juga tersedia melalui Kali Linux, sistem operasi yang menyediakan berbagai perangkat untuk pengujian keamanan. Namun, Anda tidak harus menggunakan Kali Linux karena sejumlah tool juga dapat dijalankan di Windows atau macOS.
Apa yang Perlu Diperhatikan Saat Menggunakan Hacking Tools?
Hacking tools membantu menemukan bagian yang perlu diperiksa lebih lanjut, namun agar bisa memberikan dampak, pastikan beberapa hal ini:
1. Banyak Alat yang Bisa Menghasilkan Temuan yang Sama
Dua scanner berbeda bisa menemukan masalah serupa pada server yang sama. Menjalankan keduanya belum tentu memperluas pemeriksaan, terutama jika fungsi aplikasi setelah login belum dijangkau.
Oleh karena itu, lebih baik menggunakan tools yang bisa menjawab kebutuhan berbeda. Misalnya menggunakan Nmap untuk memetakan layanan, lalu pemeriksaan aplikasi untuk menguji apakah pembatasan akses bekerja.
Dengan begitu, kualitas pengujian dinilai dari cakupan dan bukti yang diperoleh, bukan hanya berapa jumlah tools yang dijalankan.
3. Pengujian pada Sistem Aktif Perlu Dibatasi
Aplikasi produksi tentu akan selalu digunakan untuk menjalankan aktivitas bisnis. Pengujian yang menambah beban atau memengaruhi transaksi perlu mempertimbangkan kondisi tersebut.
Lingkungan staging dapat menjadi pilihan untuk pengujian tertentu, tetapi konfigurasi dan fiturnya perlu mewakili sistem produksi. Jika pemeriksaan harus dilakukan pada sistem aktif, jadwal dan batas tindakan perlu disesuaikan dengan aktivitas pengguna.
4. Bukti Celah Tidak Harus Mengambil Seluruh Data
Ketika pengujian menemukan akses ke dokumen sensitif, pembuktian tidak selalu membutuhkan pengambilan semua dokumen yang tersedia. Bukti secukupnya dapat menunjukkan masalah tanpa memperbesar paparan data.
Pengelolaan bukti perlu mencakup pembatasan akses, penyimpanan, dan pengiriman kepada pihak yang berwenang. Maka masa penyimpanan serta penghapusannya juga perlu disepakati.
Baca Juga : Pentest Report: Contoh Laporan Pentest untuk Perusahaan
5. Temuan Belum Selesai Setelah Dilaporkan
Hasil tools bisa menunjukkan dugaan masalah, tetapi perusahaan tentu membutuhkan bukti dan penjelasan dampak sebelum menentukan perbaikan. Jika ada dugaan port terbuka, Anda perlu mengonfirmasi apakah port tersebut masuk kategori kerentanan atau bukan.
Setelah kelemahan divalidasi dan diperbaiki, lakukan pengujian ulang untuk memeriksa hasil perubahan. Perubahan konfigurasi mungkin menutup satu celah, tetapi belum tentu menyelesaikan penyebab masalah pada fungsi lain.
Menilai Risiko Sistem melalui Penetration Testing
Memahami fungsi hacking tools membantu tim IT memilih perangkat pemeriksaan. Namun, ketika perusahaan ingin mengetahui apakah celah dapat dimanfaatkan untuk mengakses data atau mengganggu layanan, diperlukan pengujian yang lebih mendalam.
Penetration testing relevan sebelum peluncuran aplikasi, setelah perubahan besar pada sistem, atau ketika temuan internal membutuhkan validasi. Hasilnya membantu perusahaan memahami dampak kelemahan dan menentukan prioritas perbaikan.
DSG menyediakan layanan penetration testing untuk membantu perusahaan mengidentifikasi dan memvalidasi kelemahan sistem. Pengujian disertai rekomendasi perbaikan dan retest untuk mengevaluasi tindak lanjutnya.
Apakah temuan pemeriksaan internal sudah cukup menjelaskan risiko pada sistem Anda? Konsultasikan dengan tim DSG untuk membahas bagian yang membutuhkan pengujian lebih lanjut.


















