5 Cara Menemukan Celah Keamanan Siber

celah keamanan siber

Daftar Isi

Serangan siber sering kali tidak dimulai dari teknik peretasan yang rumit. Seringkali hacker memanfaatkan celah keamanan siber yang sebenarnya sudah lama ada di dalam sistem organisasi. 

Sayangnya, celah seperti ini kerap luput dari perhatian karena tidak ada proses yang secara rutin memeriksa dan memvalidasinya. Tanpa disadari, kondisi tersebut membuka peluang bagi pihak tidak bertanggung jawab untuk masuk ke jaringan perusahaan. 

Artikel ini membahas pendekatan praktis yang dapat membantu tim IT dan keamanan mengidentifikasi potensi kerentanan sejak awal serta memperkuat perlindungan di level endpoint, server, infrastruktur, hingga perangkat kerja.

Apa Itu Celah Keamanan Siber dan Contohnya?

Celah keamanan siber dapat didefinisikan sebagai kelemahan dalam sistem, aplikasi, konfigurasi, atau perangkat yang memungkinkan pihak tidak berwenang mendapatkan akses atau melakukan tindakan berbahaya. 

Celah ini bisa muncul karena bug pada software, kesalahan konfigurasi, kebijakan akses yang terlalu longgar, atau sistem yang tidak diperbarui.

Contoh dari beberapa celah keamanan siber seperti:

  •  Server perusahaan yang masih menggunakan versi sistem operasi lama dan belum menerima patch keamanan terbaru
  • Port layanan manajemen yang terbuka ke internet tanpa pembatasan akses, sehingga dapat dipindai dan dicoba oleh attacker
  • Perangkat karyawan yang tidak memiliki perlindungan keamanan yang konsisten juga dapat menjadi pintu masuk bagi malware atau ransomware

Celah seperti ini menjadi titik awal sebelum penyerang bergerak lebih jauh ke dalam jaringan.

Mengapa Organisasi Sering Terlambat Menyadari Celah Keamanan?

Sistem IT perusahaan biasanya terdiri dari berbagai komponen seperti server, aplikasi, jaringan, perangkat endpoint, hingga layanan cloud yang terus berubah seiring kebutuhan bisnis. Tanpa proses pemantauan yang konsisten, kerentanan dapat muncul dan bertahan cukup lama sebelum akhirnya terdeteksi.

Selain itu, tidak semua organisasi memiliki visibilitas penuh terhadap seluruh aset digital yang dimiliki. Server lama yang masih aktif, aplikasi internal yang jarang diperbarui, atau perangkat yang tidak tercatat dalam inventaris sering kali luput dari pemeriksaan keamanan. 

Faktor lain adalah pendekatan yang masih reaktif. Banyak organisasi baru melakukan investigasi ketika sudah terjadi insiden, bukan secara proaktif mencari potensi kerentanan sejak awal. Akibatnya, celah keamanan siber baru disadari setelah dieksploitasi oleh attacker. 

Oleh karena itu, organisasi perlu memiliki proses yang sistematis untuk mengidentifikasi dan memprioritaskan kerentanan sebelum menjadi risiko nyata bagi operasional bisnis.

Baca Juga : 8 Strategi Terbaik Meningkatkan Keamanan Jaringan Perusahaan

5 Cara Menemukan Celah Keamanan Siber

Organisasi membutuhkan pendekatan yang terstruktur untuk memetakan aset, memeriksa potensi kerentanan, hingga memvalidasi apakah celah keamanan tersebut benar-benar bisa dieksploitasi. 

Berikut lima langkah praktis yang dapat membantu tim IT mengidentifikasi dan menutup celah keamanan sebelum dimanfaatkan oleh hacker.

1. Memetakan Aset dan Attack Surface Secara Menyeluruh

Langkah pertama untuk menemukan celah keamanan siber adalah memahami dengan jelas apa saja aset digital yang dimiliki organisasi. 

Banyak kerentanan muncul bukan karena sistem tidak memiliki perlindungan, melainkan karena ada aset yang tidak terpantau dengan baik. Server lama yang masih aktif, aplikasi internal yang jarang diperbarui, hingga perangkat endpoint yang tidak tercatat dalam inventaris sering kali menjadi titik lemah yang tidak disadari.

Karena itu, tim IT perlu membuat inventaris aset yang komprehensif. Inventaris ini sebaiknya mencakup berbagai komponen infrastruktur TI yang digunakan dalam operasional bisnis, seperti:

  • Server dan infrastruktur komputasi, baik fisik maupun virtual, termasuk VM, container, dan cloud instance
  • Aplikasi bisnis, seperti aplikasi web, aplikasi internal perusahaan, API, serta layanan SaaS yang digunakan oleh tim
  • Perangkat jaringan, misalnya firewall, router, switch, VPN gateway, dan perangkat network management lainnya
  • Endpoint karyawan, termasuk laptop, desktop, perangkat mobile, dan perangkat kerja lain yang terhubung ke jaringan perusahaan
  • Perangkat tambahan atau IoT, seperti printer jaringan, CCTV, sistem kontrol akses, atau perangkat operasional lain yang terhubung ke jaringan

Selain daftar aset, penting juga untuk mencatat informasi tambahan seperti pemilik sistem, fungsi bisnis, lokasi jaringan, serta tingkat kritikalitasnya. Dengan data ini, organisasi dapat menentukan prioritas pengamanan secara lebih tepat.

2. Melakukan Vulnerability Scanning Secara Berkala

Setelah organisasi memiliki inventaris aset yang jelas, langkah berikutnya untuk menemukan celah keamanan siber adalah melakukan vulnerability assessment atau vulnerability scanning secara berkala. 

Proses ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi kerentanan pada sistem, aplikasi, maupun perangkat yang terhubung ke jaringan sebelum celah tersebut dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab.

Vulnerability scanning bekerja dengan cara memeriksa sistem terhadap database kerentanan yang sudah diketahui, termasuk kerentanan yang telah memiliki identitas CVE (Common Vulnerabilities and Exposures). 

Dengan pendekatan ini, tim keamanan dapat mengetahui apakah server, aplikasi, atau perangkat tertentu masih menggunakan versi software yang rentan, memiliki konfigurasi yang lemah, atau menjalankan layanan yang tidak seharusnya terbuka.

Pemeriksaan ini sebaiknya mencakup beberapa area penting dalam infrastruktur TI, antara lain:

  • Server dan sistem operasi, untuk mendeteksi software yang belum diperbarui atau memiliki patch keamanan yang tertinggal
  • Aplikasi dan layanan web, termasuk potensi kerentanan pada komponen aplikasi atau library yang digunakan
  • Perangkat jaringan, seperti firewall, router, dan perangkat lain yang mungkin memiliki konfigurasi atau firmware yang rentan
  • Endpoint dan perangkat kerja karyawan, guna memastikan sistem operasi serta aplikasi yang digunakan tetap dalam kondisi aman dan terkini

Agar efektif, vulnerability scanning tidak boleh dilakukan hanya sekali. Idealnya, proses ini dijalankan secara terjadwal, misalnya setiap bulan atau setiap kali ada perubahan besar pada infrastruktur. Hasil pemindaian kemudian dianalisis untuk menentukan prioritas perbaikan berdasarkan tingkat risiko dan dampaknya terhadap operasional bisnis.

3. Melakukan Audit Konfigurasi dan Hardening Sistem

Tidak semua celah keamanan siber berasal dari bug pada software, bisa jadi celah justru muncul karena konfigurasi sistem yang kurang tepat. 

Misalnya, port layanan manajemen yang terbuka ke internet, penggunaan kredensial default, atau kebijakan akses yang terlalu longgar. Kondisi seperti ini sering kali luput dari perhatian karena sistem tetap berjalan normal dari sisi operasional.

Untuk mengurangi risiko tersebut, organisasi perlu melakukan audit konfigurasi secara berkala dan menerapkan praktik system hardening. 

Hardening adalah proses memperkuat sistem dengan cara menonaktifkan layanan yang tidak diperlukan, membatasi akses administratif, serta memastikan setiap komponen mengikuti standar konfigurasi keamanan yang telah ditetapkan.

Beberapa langkah audit konfigurasi yang umum dilakukan antara lain:

  • Meninjau port dan layanan aktif pada server atau perangkat jaringan
  • Memastikan akses administratif dibatasi hanya untuk pengguna yang berwenang
  • Memeriksa kebijakan autentikasi, seperti penggunaan password kuat dan multi-factor authentication (MFA)
  • Menghapus atau menonaktifkan akun default maupun akun yang tidak lagi digunakan
  • Memastikan logging dan monitoring telah aktif untuk mendeteksi aktivitas mencurigakan

Audit konfigurasi yang konsisten membantu organisasi menemukan potensi kelemahan yang mungkin tidak terdeteksi melalui vulnerability scanning. 

4. Memprioritaskan Patch dan Pembaruan Keamanan

Banyak kerentanan keamanan sebenarnya sudah memiliki patch atau pembaruan resmi dari vendor, tetapi belum diterapkan oleh organisasi. Ketika pembaruan ini tertunda, sistem tetap berada dalam kondisi rentan dan berpotensi menjadi target serangan. Oleh karena itu, patch management menjadi salah satu langkah penting dalam menemukan sekaligus menutup celah keamanan siber.

Namun, dalam lingkungan TI yang kompleks, tidak semua patch bisa dipasang secara bersamaan. Organisasi perlu memiliki strategi prioritas agar tim IT dapat fokus pada kerentanan yang paling berisiko. 

Penentuan prioritas biasanya mempertimbangkan beberapa faktor, seperti tingkat keparahan kerentanan, jenis sistem yang terdampak, serta apakah sistem tersebut terhubung langsung ke internet.

Beberapa praktik yang dapat diterapkan dalam proses patch management meliputi:

  • Mengidentifikasi kerentanan dengan tingkat risiko tinggi yang memerlukan pembaruan segera
  • Memprioritaskan patch pada sistem yang bersifat kritikal bagi operasional bisnis
  • Melakukan pengujian patch pada lingkungan staging sebelum diterapkan di sistem produksi
  • Menjadwalkan pembaruan keamanan secara rutin untuk seluruh sistem dan aplikasi

Dengan proses patch management yang terstruktur, organisasi dapat menutup celah keamanan siber yang sudah diketahui sebelum kerentanan tersebut dimanfaatkan oleh attacker. 

Pendekatan ini juga membantu memastikan seluruh sistem tetap berada pada versi yang aman dan didukung oleh vendor.

5. Melakukan Penetration Testing untuk Memvalidasi Kerentanan

Setelah berbagai potensi celah keamanan siber teridentifikasi melalui inventaris aset, vulnerability scanning, audit konfigurasi, dan pembaruan sistem, langkah berikutnya adalah melakukan penetration testing

Dalam proses ini, tim keamanan atau pihak ketiga yang independen akan mensimulasikan teknik serangan yang biasa digunakan oleh hacker. Tujuannya bukan untuk merusak sistem, melainkan untuk memahami sejauh mana sebuah kerentanan dapat dimanfaatkan serta dampak yang mungkin terjadi jika celah tersebut benar-benar disalahgunakan.

Penetration testing biasanya dilakukan pada beberapa area penting, seperti:

  • Aplikasi web atau sistem internal, untuk menguji potensi celah pada autentikasi, akses data, atau logika aplikasi
  • Infrastruktur jaringan, guna melihat kemungkinan attacker mendapatkan akses awal atau bergerak secara lateral di dalam jaringan
  • Server dan sistem kritikal, untuk mengidentifikasi potensi eskalasi hak akses atau akses tidak sah
  • Endpoint dan perangkat pengguna, sebagai bagian dari simulasi serangan yang menargetkan perangkat kerja karyawan

Hasil penetration testing umumnya berupa laporan yang berisi temuan kerentanan, tingkat risiko, serta rekomendasi perbaikan yang dapat diterapkan oleh tim IT. Selain itu, banyak organisasi juga melakukan retest setelah perbaikan dilakukan untuk memastikan bahwa celah keamanan siber tersebut benar-benar telah ditutup.

Menemukan celah keamanan siber bukanlah proses yang singkat. Infrastruktur TI perusahaan terus berkembang, mulai dari penambahan aplikasi, perubahan konfigurasi server, hingga penggunaan perangkat baru oleh karyawan. Tanpa proses pemeriksaan yang terstruktur dan rutin, celah keamanan dapat muncul kembali tanpa disadari dan berpotensi dimanfaatkan oleh attacker.

Namun, bagi banyak organisasi, melakukan evaluasi keamanan secara menyeluruh sering kali membutuhkan keahlian dan alat yang tepat. 

DSG menyediakan layanan Vulnerability Assessment yang membantu organisasi mengidentifikasi celah keamanan siber pada server, aplikasi, jaringan, maupun perangkat endpoint. 

Melalui proses analisis yang terstruktur, tim kami akan memetakan kerentanan yang ada, menilai tingkat risikonya, serta memberikan rekomendasi teknis yang dapat langsung diterapkan oleh tim IT.

Hubungi tim kami untuk konsultasi gratis dan menjadwalkan sesi sesi vulnerability assessment.

Isi form berikut! Tim kami segera menghubungi Anda.

Picture of Nadia Kamila

Nadia Kamila

Hi, I'm Nadia Lidzikri Kamila, an SEO Content Writer specializing in cybersecurity and digital security. Focused on creating well-researched content on malware, ransomware, antivirus solutions, and data protection to help users stay safe in the digital world.