CSIRT Training: Dari Teori hingga Simulasi Insiden Siber

CSIRT Training

Daftar Isi

Apakah organisasi Anda sudah memiliki tim CSIRT/TTIS, atau masih dalam tahap pembentukan? Apa pun kondisinya, memastikan anggota tim siap menangani insiden siber bukan hal yang bisa dilewatkan. 

Tim yang baru dibentuk perlu memahami tugas dan tanggung jawabnya, sementara tim yang sudah berjalan perlu terus mengasah kemampuan agar tidak kewalahan saat menghadapi serangan. 

Melalui CSIRT training, anggota dapat memperkuat keterampilan teknis sekaligus melatih koordinasi dalam menangani berbagai skenario insiden.

Keahlian yang Perlu Dimiliki Tim CSIRT

CSIRT (Computer Security Incident Response Team) atau Tim Tanggap Insiden Siber (TTIS) merupakan tim yang bertugas menangani insiden keamanan siber dalam suatu organisasi. 

Saat insiden terjadi, anggotanya perlu bergerak cepat dan terkoordinasi, mulai dari menganalisis kejadian, menentukan langkah penanganan, hingga menyampaikan informasi kepada pihak terkait.

Di Indonesia, pembentukan dan tugas TTIS diatur dalam Peraturan BSSN Nomor 10 Tahun 2020. Regulasi ini membagi TTIS menjadi empat jenis, yaitu nasional, sektoral, organisasi, dan khusus. Setiap tim paling sedikit terdiri atas ketua, anggota, dan narahubung dengan tanggung jawab masing-masing.

Tugas dari ketua adalah mengkoordinir anggota agar menjalankan tugas penanganan, sedangkan narahubung menjadi penghubung dengan pihak stakeholder. Agar setiap peran ini bisa berjalan dengan baik, maka anggota CSIRT juga perlu memiliki kompetensi yang sesuai.

Dalam kerangka kompetensi staf CSIRT, BSSN mengenalkan tiga kemampuan dasar yang pelru dikuasai:

  • Personal skills: kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, dan mengambil keputusan, terutama ketika tim menghadapi situasi penuh tekanan.
  • Technical foundation skills: pemahaman tentang jaringan, sistem, dan log untuk mengenali serta menganalisis aktivitas mencurigakan.
  • Incident handling skills: kemampuan memeriksa laporan, menganalisis insiden, menentukan langkah penanganan, dan membantu pemulihan sistem.

Ketiga kemampuan ini menunjukkan bahwa bekerja dalam CSIRT membutuhkan kombinasi keterampilan teknis dan nonteknis. Anggota tidak cukup hanya memahami cara kerja sistem, tetapi juga perlu mampu berkoordinasi dan menjalankan tanggung jawabnya selama penanganan insiden.

Pelatihan keamanan siber umumnya dirancang untuk mengembangkan kemampuan tertentu sesuai bidang yang ditekuni. Misalnya:

  • Penetration testing: berfokus pada pengujian keamanan sistem dan pencarian celah yang berpotensi dimanfaatkan penyerang.
  • SOC analyst: berfokus pada pemantauan aktivitas keamanan dan deteksi ancaman melalui analisis log.
  • Security awareness: membantu pengguna mengenali ancaman dan menerapkan kebiasaan digital yang lebih aman.

Berbeda dari pelatihan tersebut, CSIRT training tidak hanya berfokus pada satu keterampilan teknis. Pelatihan ini mempersiapkan anggota untuk menjalankan fungsi tanggap insiden sebagai sebuah tim. Cakupannya meliputi penerimaan laporan, analisis, penanganan, hingga koordinasi dan pelaporan kepada pihak terkait.

Dalam CSIRT training, anggota mempelajari cara menangani insiden secara terkoordinasi, mulai dari memahami pembagian tugas dan alur penanganan hingga menentukan kapan insiden perlu dieskalasikan kepada pimpinan atau pihak terkait.

Baca Juga : Cara Rumah Sakit Membentuk TTIS Sesuai SEB Kemenkes dan BSSN

Mengapa Tim CSIRT Perlu Mengikuti Pelatihan dan Latihan Simulasi?

Memiliki CSIRT dan SOP penanganan insiden belum menjamin tim siap menghadapi serangan. Pelatihan dan simulasi membantu mempersiapkan hal tersebut.

1. Menguji Kesiapan SOP Penanganan Insiden

SOP yang sudah disusun perlu diuji melalui praktik. Misalnya, ketika ransomware menyerang salah satu perangkat, apakah anggota tahu siapa yang harus dihubungi, perangkat mana yang perlu diisolasi, dan informasi apa yang harus dikumpulkan?

Simulasi membantu menemukan tahapan yang belum jelas atau sulit dijalankan. Organisasi bisa memperbaiki kekurangan tersebut sebelum menghadapi insiden sebenarnya.

2. Melatih Koordinasi Antarunit

Penanganan insiden tidak selalu menjadi urusan tim IT. Pimpinan, pengelola sistem, bagian hukum, dan tim komunikasi mungkin perlu dilibatkan, terutama jika serangan mengganggu operasional atau berdampak pada data pelanggan.

Latihan bersama membantu setiap pihak memahami perannya, mengetahui informasi yang perlu disampaikan, dan menentukan kapan harus mengambil keputusan atau melakukan eskalasi.

3. Memahami Tanggung Jawab dan Jalur Koordinasi

Berdasarkan Peraturan BSSN Nomor 1 Tahun 2024, pengelolaan insiden siber juga mencakup koordinasi dengan pihak terkait. Anggota CSIRT perlu memahami batas penanganan timnya serta mengetahui kapan harus meminta bantuan CSIRT sektoral atau pihak lain.

Pelatihan membantu anggota mengenali alur tersebut, termasuk tanggung jawab dalam mendokumentasikan dan melaporkan insiden kepada pimpinan.

4. Membiasakan Tim Menghadapi Skenario Serangan

Cyber drill memberikan kesempatan bagi anggota untuk berlatih menghadapi berbagai skenario, seperti ransomware, malware, web defacement, DDoS, dan kebocoran data. Skenario dapat disesuaikan dengan risiko yang dihadapi organisasi.

Salah satu contohnya adalah Industrial Cyberdrill Exercise (ICE) yang diselenggarakan BSSN untuk meningkatkan kapasitas CSIRT organisasi di sektor industri. Hasil latihan dapat digunakan untuk mengevaluasi kemampuan tim dan menentukan aspek yang masih perlu diperbaiki.

Materi Pelatihan CSIRT Berdasarkan Fungsi Layanannya

Materi CSIRT training perlu disesuaikan dengan fungsi layanan yang dijalankan oleh tim. BSSN mengelompokkan layanan TTIS ke dalam tiga area, yaitu layanan reaktif, layanan proaktif, dan layanan manajemen kualitas keamanan. Pembagian ini bisa digunakan organisasi untuk menentukan kompetensi yang perlu dibangun melalui pelatihan.

1. Materi untuk Layanan Reaktif

Layanan reaktif berfokus pada penanganan insiden yang sudah terjadi. Anggota CSIRT perlu memahami cara menerima laporan, menganalisis kejadian, menentukan langkah penanganan, hingga membantu pemulihan sistem.

Materi pelatihannya dapat mencakup:

  • Penerimaan laporan dan pemberian peringatan: mempelajari cara menerima, memeriksa, dan memverifikasi laporan insiden, serta menyampaikan peringatan kepada pihak yang perlu mengambil tindakan.
  • Penanggulangan dan pemulihan insiden: mempelajari tahapan triase, analisis, pembatasan dampak (containment), dan pemulihan sistem setelah serangan.
  • Penanganan kerawanan: mempelajari cara menganalisis kerentanan, berkoordinasi dengan pemilik sistem, dan memberikan rekomendasi teknis untuk memperkuat keamanan.
  • Penanganan artefak digital: mempelajari cara mengumpulkan dan menganalisis bukti insiden, seperti log, file mencurigakan, dan tangkapan layar.

2. Materi untuk Layanan Proaktif

Layanan proaktif bertujuan membantu organisasi mengenali potensi ancaman dan mengurangi risiko sebelum insiden terjadi. Materinya berfokus pada kegiatan pemantauan dan penilaian keamanan.

Materi pelatihannya dapat mencakup:

  • Audit dan penilaian keamanan: mempelajari cara memeriksa kondisi keamanan sistem elektronik, mengidentifikasi kelemahan, dan menyusun rekomendasi perbaikan.
  • Pemantauan informasi ancaman dan kerawanan: mempelajari cara mengikuti perkembangan ancaman, kerentanan, serta tren teknologi yang dapat memengaruhi keamanan sistem.
  • Deteksi dan analisis ancaman: mempelajari cara mengenali aktivitas mencurigakan dan menganalisis indikator yang dapat mengarah pada serangan siber.

3. Materi untuk Layanan Manajemen Kualitas Keamanan

Layanan manajemen kualitas keamanan mendukung peningkatan kemampuan CSIRT sekaligus kesiapan organisasi dalam menghadapi insiden. Materinya mencakup pengelolaan risiko, edukasi, konsultasi, dan pengembangan kompetensi tim.

Materi pelatihannya mencakup:

  • Analisis risiko keamanan: mempelajari cara mengidentifikasi dan menilai risiko pada aset serta sistem elektronik untuk menentukan prioritas perbaikan.
  • Konsultasi kesiapan penanganan insiden: mempelajari cara mengevaluasi kesiapan organisasi dan memberikan rekomendasi terkait prosedur, sumber daya, serta pembagian tanggung jawab.
  • Edukasi dan security awareness: mempelajari cara menyusun sosialisasi keamanan siber agar pegawai lebih memahami ancaman dan tindakan pencegahannya.
  • Perancangan pelatihan dan cyber drill: mempelajari cara menyusun program latihan berdasarkan kebutuhan organisasi, termasuk menentukan skenario, pembagian peran, dan metode evaluasi.

Baca Juga : Cara Rumah Sakit Membentuk TTIS Sesuai SEB Kemenkes dan BSSN

Diskusikan Pembentukan CSIRT dan Pelatihannya bersama DSG

Membangun CSIRT membutuhkan persiapan yang tepat, mulai dari pembentukan tim, pembagian tanggung jawab, hingga peningkatan kompetensi anggota. Setiap anggota juga perlu memahami prosedur dan mampu menjalankan fungsi tanggap insiden sesuai kebutuhan organisasi.

DSG telah memiliki CSIRT dan bekerja sama dengan BSSN dalam penyelenggaraan pelatihan serta bimbingan teknis (bimtek) CSIRT. Pengalaman ini menjadi bekal DSG dalam mendukung organisasi yang ingin membentuk tim maupun meningkatkan kemampuan CSIRT yang sudah berjalan.

Materi pelatihan dapat disesuaikan dengan kondisi organisasi, tingkat kesiapan anggota, dan fungsi layanan yang perlu diperkuat. Mulai dari pemahaman dasar pengelolaan CSIRT hingga praktik penanganan dan simulasi insiden siber.

Ingin membentuk CSIRT atau meningkatkan kompetensi tim yang sudah ada? Diskusikan kebutuhan pelatihan dan bimtek CSIRT organisasi Anda bersama DSG.

Isi form berikut! Tim kami segera menghubungi Anda.

Picture of Nadia Kamila

Nadia Kamila

Hi, I'm Nadia Lidzikri Kamila, an SEO Content Writer specializing in cybersecurity and digital security. Focused on creating well-researched content on malware, ransomware, antivirus solutions, and data protection to help users stay safe in the digital world.